Showing posts with label kumkum 17-18 april 2010. Show all posts
Showing posts with label kumkum 17-18 april 2010. Show all posts

5.27.2010

terima kasih kumkum..

Wah..surprise surprise!!

Sepulang aku dari sekolah, ada sebuah paket yang terbungkus dari kertas koran ditujukan untukku. Wah, dari siapakah gerangan? Ternyata paket itu dari Kumkum!! Ini adalah paket hadiah untuk blog sahabat bumi yang berhasil menang di Kumkum Blog Competition beberapa waktu lalu.. Dan hadiahnya sungguh membuat aku senang!! :D


T-shirt Kumkum yang terbuat dari katun organik, produksi Firebolt Distro & Clothing. Tulisannya aku suka banget "Naik apa kamu hari ini?". Sesuai untuk aku yang suka banget naik angkot dan jalan kaki.. Bahan katun organiknya? Hmm.. enak banget.. adem.. Apalagi kemaren sempet pengen punya kaos lagi, tapi ngga pengen beli (baca : pengen kaos dari acara atau event tertentu) hihihi... :p

Tas kain unik pengganti kantong kresek dari BaGoes. Ya ya ya..orang-orang bilang.. 'kalo ini mah minta adek sendiri aja'. Tapi kan beda dong rasanya dapet dari Kumkum sama minta adek sendiri :p Asik..punya shopping bag lagi :D

Suvenir kampanye Earth Hour WWF-Indonesia. Wah, ini dia yang oke banget nget nget.. Another shopping bag bergambar panda legendarisnya WWF, lilin earth hour (ngakunya sih... 100% beeswax candle/made of natural product/non-toxic/non-polluting/non-allergenic/low carbon product), 2 pin WWF, dan kaos earth hour yang bahannya juga dari katun organik..

Oya, dua kaos itu berpotongan cewe. Syukurlah.. aku ngga suka T-shirt potongan cowo, hihihi :) Pas banget ukurannya!! :D

Terakhir... 1 roll biobag (@ isi 10 buah) yang terbuat dari campuran tepung singkong dari freetodecide.org.

Terima kasih Kumkum :)

2.08.2010

kurangi.

Hidup hijau pada dasarnya bukan mendaur ulang kembali barang-barang yang telah kita pergunakan. Ada yang lebih penting dan lebih mendasar dari daur ulang, yaitu mereduksi atau mengurangi. Mengurangi barang yang kita beli, mengurangi barang yang kita gunakan, dan pastinya juga harus mengurangi keinginan kita untuk memiliki barang. Sebisa mungkin kita tidak membeli atau menggunakan barang kalo ngga penting-penting amat. Waduh, kadang susah juga ya, apalagi kalo udah ada diskon, semua pasti pengen dibeli. Mumpung murah.. :p

Memiliki dan menyimpan hanya barang-barang kebutuhan dasar untuk jaman sekarang tentu berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau dulu hidup sederhana terbatas hanya dengan sandang pangan papan, sekarang tentunya sudah bertambah. Daftar kebutuhan primer semakin panjang. Barang-barang yang ada sekarang bukan hasil dari pemikiran 'perlu untuk diciptakan' lagi, tetapi 'diciptakan untuk dibutuhkan'. Diciptakan dulu, nanti ada bagian yang akan memikirkan bagaimana caranya supaya orang merasa membutuhkan.

Kemajuan teknologi yang katanya katanya membuat hidup lebih gampang, toh ternyata tidak juga. Jaman menuntut kita memiliki barang lebih banyak. Jaman juga membuat orang tidak mudah puas. Wah, ternyata hidup lebih mudah itu kompensasinya hidup lebih kompleks ya?

"Sudah hidup sederhanakah saya?"

Kalau mau mengurangi penggunaan barang, tentunya ada yang harus disederhanakan terlebih dahulu, hidup kita. Menyederhanakan keinginan kita. Tapi, hidup sederhana saat ini ternyata bukan hal yang sederhana. Lagipula, sederhana itu kan relatif. Tidak ada ukuran yang pasti. Sederhana untuk saya belum tentu sederhana juga untuk orang lain. Barang yang menurut saya tidak penting dimiliki, belum tentu juga tidak penting dimiliki orang lain.

Sederhana atau tidak hidup kita, hanya kita yang tahu karena yang tahu betul apa keperluan dasar kita adalah diri kita sendiri. Bisa ngga ya kita mengurangi keperluan sehari-hari? Pada dasarnya, semua manusia bisa hidup sederhana. Tetapi sekitar kita yang membuat kita merasa harus hidup 'tidak sederhana'.

Tampaknya saat belanja kita perlu mempertanyakan kembali daftar yang kita bawa. 'Betul ngga sih saya benar-benar perlu barang ini?' 'Bisa ngga ya saya hidup tanpa barang ini?' Terkadang pertanyaan itu manjur juga. Barang yang sudah saya pegang dan hampir masuk ke keranjang belanja, bisa kembali masuk ke raknya.

Sekali, dua kali, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Usaha kita untuk hidup sederhana dan mengurangi ketergantungan kita atas benda pastinya akan membuat sampah yang kita hasilkan nantinya berkurang juga, ;p

Yuk, kurangi..

1.20.2010

percuma?

"Kok sepertinya percuma aja ya kalau kita memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah sendiri, ujung-ujungnya disatuin lagi sama tukang sampah."

"Percumakah?"

Sering banget aku mendengar 'keluhan' seperti tadi. Banyak diantara kita yang sebenernya udah pengen 'berbuat' untuk memisahkan sampah, antara sampah organik dan anorganik. Tapi setelah niat itu bulat, eh, kepentok lagi masalah yang klasik. Sistem tidak mendukung, dengan kata lain pihak yang berwenang mengurus sampah tidak memisahkan mereka. Kalaupun ada beberapa pemukiman yang Tempat Pembuatan Sampahnya (TPS) dipisah, berapa persen jumlahnya. Pemerintah belum bisa diandalkan untuk mengurus sistem yang berkelanjutan, bla bla bla..

Berhenti mengeluh kepada pemerintah yang mengurus sistem. 

Mari kita inisiasi dari yang terkecil, yang bisa kita lakukan tanpa bergantung pada orang lain. Untuk urusan sampah ini, banyak sekali yang bisa kita lakukan tanpa menunggu orang lain bertindak.

Sampah organik.

Sampah ini tampaknya ada sejak adanya peradaban. Semua orang perlu makan, dan tidak semua yang bisa dimakan akan habis. Makan daun, tangkai jadi sampah. Makan buah, kulit dan biji jadi sampah. Hal yang paling gampang kita lakukan adalah, mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan.

Sulitkah? Sepertinya tidak, tapi masih banyak orang yang tidak menghabiskan makanannya dan menolerir banyak sekali alasan untuk tidak menghabiskan makanan. Jadi solusinya, kurangilah alasan untuk tidak menghabiskan makanan, dan carilah solusinya.

Yang sering aku lihat adalah masalah porsi makanan. Misalnya, kalau tahu makannya dikit, ambil secukupnya. Kalau makan di restoran, minta nasinya setengah porsi, atau minta piring kosong untuk menaruh nasi yang tidak termakan. Tentunya dipisahinnya sebelum makan, jangan udah selesai makan baru dipisah. Yang penting masih layak untuk dimakan orang lain. Terus bilang sama mas-mas atau mbak-mbak yang melayani bahwa nasi itu masih layak untuk dimakan. Seenggaknya kalau ada peraturan restoran itu tidak bisa diberikan oleh tamu lain, masih bisa dimakan oleh pekerjanya.

Oke.. Resolusi tahun ini bertambah.
Mengambil makanan secukupnya? Cek!
Menghabiskan makanan? Cek!

Yang berikutnya, sampah organik dikompos. Ingat apa yang dilakukan orang-orang dulu terhadap sampah organik? Mereka menyisakan sedikit lahannya di halaman, dikeruk supaya bisa menjadi tempat sampah. Sampah organik dimasukkan ke sana hingga penuh, nanti ditutup dengan tanah dari lahan di sebelahnya yang menjadi calon 'tempat sampah' baru.

Ngga punya lahan untuk dikeruk dan dijadikan tempat sampah? Pakailah keranjang takakura! Cerita lengkapnya udah pernah aku tulis di sini. Cara ini sangat mengurangi timbulan sampah yang keluar dari rumah kita, sistem terkecil yang masih bisa kita kontrol.

Kurangi timbulan sampah organik di rumah? Cek! 

Sampah anorganik. 

Untuk sampah-sampah yang masih bisa dipakai lagi, semua dipisahin dari awal. Minimal kemasan dari plastik dan kaca. Kalau ada tempat khusus di dekat tempat sampah untuk menaruh barang-barang tersebut, dari awal botol-botol tersebut 'bersih' dari sampah. Nanti sampah botol itu bisa kita letakkan di luar, pemulung juga tidak perlu mengacak-acak tempat sampah kita. 

Untuk sampah yang tidak aman seperti plastik dan styrofoam, hindari sebisa mungkin. Minuman botol, mie instan dalam styrofoam. Yang paling gampang ya membiasakan diri untuk bawa bekal minum dari rumah. Jadi di jalan kita tidak 'terpaksa' beli minuman kemasan. Untuk makanan, sama dengan minum. Bawa bekal dari rumah. Apalagi bekal dari rumah itu lebih sehat dan terjamin kualitas makanannya. Kalo repot? Ngga usah bawa makanannya, bawa tempatnya aja. Biar ngga susah jangan lupa simpen piring atau tempat bekal di kantor, jadi kalau mau beli makanan ngga perlu pake kemasan.

Mengurangi sampah kertas dan plastik pembungkus. Cek!

Untuk hal yang sederhana ini, kadang kita bertemu dengan sifat manusia yang ngga pernah puas, dan ngga mau repot. "Mau makan aja repot, mau minum aja susah." Memang sederhana, tapi terkadang tidak mudah.

Kalau pengen sesuatu yang instan untuk membuat bumi ini lebih baik, ngga beres-beres karena kebanyakan mikir ini itu :p Betul ngga? Mengubah mind set itu tidak bisa cepat, perlu diingatkan berulang-ulang sampai kesadaran itu nempel permanen di otak. Biar ngga keburu pusing duluan, kita niatkan 'yang penting sampah dikurangi' dulu. Kalau kebiasaan ini sudah 'nempel', nanti dengan sendirinya akan menjadi sebuah pola pikir yang baru.

Kebiasaan-kebiasaan di atas mungkin hanya sedikit sekali dari banyak kebiasaan yang bisa kita lakukan untuk bersahabat dengan bumi. Tapi bayangkan kalau kebiasaan tersebut dilakukan masal berjuta-juta orang. Jadi biar kebiasaan ini jadi kebiasaan banyak orang, mari kita saling mengingatkan :p

1.10.2010

Greenie, si keranjang takakura.

Setelah menulis penghematan yang bisa dilakukan di dapur dengan mencuci piring, pertanyaan berikutnya adalah ke manakah sebaiknya sampah-sampah organik sisa makanan dan memasak itu pergi? Untuk mengurangi timbulan sampah yang sampai ke pembuangan akhir di rumah, sebetulnya kita masih bisa memanfaatkan sampah organik ini. Dari sini kita bisa dapet kompos untuk tanaman-tanaman kita.

Keranjang Takakura (namanya dari bapak yang menciptakan keranjang ini, Koji Takakura) di rumah, yang biasa dipanggil 'Greenie' oleh Mita, penghuni gelap rumah terbaru. Greenie ini berupa tempat cucian baju yang didalamnya dilapisi kardus, dan berisi tanah. Sebelum ditutup dengan penutup plastiknya, ada penutup tambahan bantal sekam.


Greenie ini sudah ada di dapur sejak 1,5 tahun yang lalu. Praktis, karena memang dirancang untuk mengolah sampah rumah tangga. Bau ngga? Hoho, jangan takut, ngga akan bau, tidak akan mengeluarkan 'air sampah'.

Kalau kita beli keranjang Takakura, kita akan mendapatkan bakteri yang fungsinya menjadi starter. Bakteri-bakteri ini yang akan menjadi teman kita, dengan mengurai sampah jadi kompos. Bakteri ini ngga akan keliatan kok, jadi bentuknya tidak mengerikan sama sekali :) Simpan keranjang di dekat bak cuci biar gampang. Sebaiknya keranjang ini tidak kena sinar matahari langsung.

Pemakaian keranjang Takakura ini sama sekali ngga susah. Paling mengeluarkan sedikit energi lebih karena kita harus 'mencincang' sampah organik  dimasukkan ke dalam keranjang. Kenapa harus dipotong kecil-kecil dulu? Supaya bakterinya bisa mengurai sampah lebih cepat. Setelah itu, sampah organik ini dimasukkan ke keranjang Takakura dan diaduk-aduk dengan campuran kompos (tanah dan starter) sampai rata. Tutup dengan sekam supaya tidak bau dan suhunya terjaga.


Mau tahu bakteri itu sudah makan sampah kita atau belum? Letakkan tangan ke dekat keranjang. Kalau terasa hangat, berarti bakteri-bakteri itu sudah mulai bekerja. Untuk mendapatkan kompos, 2/3 bagian kompos yang telah jadi bisa kita ambil. Sisanya, bisa digunakan lagi sebagai starter. Nah, sampah berkurang, pupuk bisa dimanfaatkan untuk tanaman-tanaman kita. Asik kan?

Nah, kalau mau membuat keranjang takakura sendiri, ada blognya ternyata. Klik di sini ya. Atau bisa juga kontak ke Kang Afif 022.9283.0310.

1.06.2010

galong.


Kenalkan, ini galong.
Gayung bolong.
Sudah ada di kamar mandiku sejak SD.

Yah, ini galong generasi kedua,
karena ayah galong sudah rusak dan pecah.

Buat yang masih sering pake gayung dan kamar mandinya pake bak,
galong ini teman setia untuk menghemat air :)
Tinggal beli gayung, atau pake gayung yang udah ada,
dibolongin sedikit diujung bawah pake solder panas.
Gampang kan?

Kalo pake gayung bolong ini, bisa menghemat air.
Karena air yang keluar sudah kecil, ngga perlu lagi disetel-setel pake kran.
Kecil, tapi cukup.

Bisa dipake untuk nyuci yang kecil-kecil.
Bisa untuk wudhu.
Bisa untuk keramas. Serius, keramas pake gayung ini hemat banget.

Atau mau tahu aliran kran yang 'pas'?
Nah, ikutin aja gimana galong ini ngeluarin airnya.

Mau mencoba?

1.05.2010

nyuci piring yuuk.

gambar dari sini

Kalau bingung mau mulai hidup frugal dari mana, aku ajak untuk mulai dari kebiasaan yang tiap hari kita lakukan. Mencuci piring!! :D Mencuci piring adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan buat aku dari kecil, karena bisa jadi salah satu excuse untuk bisa main air, hehe. Ada saatnya sih aku males cuci piring, terutama kalo liat bak cuci penuh dengan piring-piring berlemak.

Kenapa aku ajak dari mencuci piring? Karena kegiatan ini rawan sekali terkena penyakit penghamburan air, dan juga karena kegiatan ini adalah salah satu kegiatan yang paling sering kita lakukan. Jadi satu perubahan kecil dalam mencuci piring, dampaknya akan sangat besar.

Kumpulin dulu piring dan gelas yang dicuci. Mencuci satu-satu piring dan gelas memang meringankan beban sih, tapi kalau kita bisa mencuci beberapa piring dan gelas bersamaan, air yang digunakan lebih sedikit.

Sebelum mencuci, pastinya kita membersihkan sampah di piring-piring kan? Nah, karena sebagian besar sampah dari piring ini sampah sisa makanan alias sampah organik, ngga ada salahnya kalau kita menyediakan keranjang takakura (tempat pengomposan) dekat bak pencuci piring. Selain bisa mengurangi timbulan sampah, bisa untuk kompos tanaman kita juga :p 

Salah satu keprihatinan terbesar aku kalau memperhatikan orang lain mencuci piring adalah dari cara menyalakan kran. Sering kali orang mencuci piring dengan kran menyala sangaaaatt besar. Sepertinya ada sugesti tersendiri, nyucinya ngga akan bersih kalau krannya ngga besar. Padahal kan ngga harus sebesar itu untuk mencuci piring dengan bersih. Pakai air secukupnya aja, pasang kran sekecil mungkin. Ngga perlu sampe kecil banget juga sih, 1/3 dari kapasitas maksimum kran sepertinya cukup.

Matiin air kalau kita ngga sedang membilas cucian. Kadang aku melihat orang yang sepanjang aktivitas mencuci piring, kondisi kran terbuka saat tidak membilas, termasuk saat menyabuni piring gelas. Air dibiarkan mengalir begitu saja. Sebetulnya yang seperti ini juga sering aku lihat kalau orang menggosok gigi atau mencuci tangan. Jadi jangan lupa, kalau airnya ngga lagi dipake, tolong dimatikan :)

Untuk menghemat air selama mencuci, sabuni dulu semua piring atau gelas yang tidak berlemak. Nah, air bilasan sabunnya bisa untuk membilas piring, gelas, dan sendok yang ditaruh dibawahnya. Lemak-lemak langsung larut ;) Mungkin ada yang terbiasa merendam semua cucian ke dalam bak cuci berisi air sabun hangat. Hm.. cara ini bisa juga dilakukan, tapi tampaknya lemak yang satu bisa nempel ke piring lain. Aku pribadi sih ngerasa kurang bersih dengan cara itu.

'Ah, itu kan biasa aja, Dan..' Kalau udah biasa nyuci seperti itu, ya..bagus :) Atau mungkin punya tips-tips lain selama mencuci piring? Ayo, mari dibagi di sini. Tapi kalau belum, yuk dicoba. Keliatannya sih sepele, tapi kadang kita lupa sama hal-hal yang sepele. Kalau yang nyuci piring mbak/bibi di dapur, yuk, sama-sama mengingatkan. Kalau hemat air, uang retribusi air bisa dihemat juga.. :) Tentunya penghematan air dalam jangka panjang juga kan?

1.04.2010

menjadi sahabat bumi. sulitkah?

Susah ngga sih untuk hidup bersahabat dengan bumi?

Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan datang. Tapi lama kelamaan pertanyaan ini muncul semakin jelas ketika kita bertemu dengan orang-orang dengan kebiasaan yang menurut kita tidak ramah lingkungan.

Mungkin terdengar arogan. Aku akui hidup saya masih belum segitunya bersahabat dengan bumi. Masih jauh, but I'm working on it. Masih banyak kebiasaan-kebiasaanku yang membuat aku belumlah layak untuk menyandang 'sahabat bumi'. Mungkin karena belum optimal dalam usaha meringankan beban bumi. Maafkan ya..

Tapi apa sih yang bikin orang susah untuk menjadi lebih 'hijau'?

Kebiasaan.
Hal ini merupakan sesuatu yang penting dan mendasar. Ngga gampang mengubah kebiasaan dari kecil. Buat aku memang susah mengubah sesuatu yang sudah dilakukan di luar kesadaran kita, sudah dilakukan jutaan kali. Jadi untuk mengubah kebiasaan kita yang kurang bersahabat menjadi lebih bersahabat dengan bumi, harus ada yang rajin mengingatkan. Yang mengingatkan dan yang diingatkan ngga boleh bosen sampai kita bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Kalau dari kecil sudah dibiasakan buka kran lebar-lebar, sampe ngga mungkin lebih besar lagi, kayanya memang sering lupa bahwa dengan air lebih sedikit juga sudah cukup. Kalau di rumah biasa buang sampah sembarangan, untuk sadar bahwa dirinya tidak tinggal di 'tempat sampah' besar susah juga.

Kenyamanan.
Hal lain yang bikin susah untuk menjadi lebih 'hijau' setelah kebiasaan adalah masalah kenyamanan. Sering kali kita harus melepaskan kenyamanan dan mau 'repot'. Mau ngurangin kantong plastik, berarti harus mau repot bawa tas belanja. Mau menghemat kertas, berarti harus mau juga sedikit meluangkan waktu untuk nyortir kertas, dan sedikit memberikan ruang untuk mengumpulkan kertas.

Ada yang sudah terbiasa untuk membakar sampah di rumah, ngga peduli isinya ada plastik yang berbahaya dibakar atau ngga. Tapi tetep aja ngga mau repot untuk ngurus pengambilan sampah di lingkungan rumah. Toh, ngga pernah kerasa menghirup udara hasil bakaran sampah itu.

Sistem.
Suatu sistem juga besar pengaruhnya. Misalnya saja untuk memilah sampah. Bagaimana bisa milah sampah kalau nanti pada ujungnya sampah-sampah tersebut masuk lagi ke dalam satu bak besar. Tidak ada lagi kelas-kelas mana yang bisa didaur ulang mana yang ngga. Apakah mungkin profesi pemulung itu memang sesuatu yang diperlukan di sini? Apa ngga bisa ya mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih 'layak', misalnya sudah tidak harus nyemplung lagi ke bak sampah super gede, tetapi mengurus yang lebih penting dari mungutin satu persatu apa yang biasa dipulung.

Contoh lain misalnya di kantor. Penggunaan listrik dan penyejuk ruangan terpusat, atau penggunaan lift/eskalator pengaruhnya besar terhadap penggunaan listrik. Atau masalah penggunaan kertas dan pelengkapan kantor. Masih banyak kantor yang tidak membiasakan karyawannya untuk bijak menggunakan kertas dan perlengkapan kantor.

Bisa juga sistem di lingkungan akademis. Dulu waktu tugas akhir, pengen banget 'melanggar' ketentuan margin dan font tulisan yang diberlakukan. Margin sebesar, dengan spasi satu setengah hingga dua dan font Times New Roman 12 itu juga bisa bikin jumlah kertas bertambah. Spasi dan tulisan bisa kan diperkecil, yang penting enak dibaca.

Wah, kalau dibahas semua, banyak sekali yang bisa ditulis di sini. Tapi dengan sistem yang tidak mendukung, bukan berarti bisa jadi pembenaran untuk tidak hidup hijau. Hanya mungkin usahanya harus lebih besar. 

Pemenuhan kebutuhan dasar.
Hm, ada lagi mungkin kebutuhan dasar yang membentur. Kita hidup di Indonesia, dimana sebagian masyarakatnya hidup masih memiliki pertanyaan yang jauh lebih mendasar, 'Mau makan apa sekarang?'. Kalau hari-harinya masih dihadapi pertanyaan ini, agak sulit untuk diajak mengubah kebiasaan, tidak nyaman, dan ikut megubah sistem yang ada.

Kompleks memang kalau ingin melakukan hidup hijau secara masal walaupun tiap individu bisa memulainya untuk hal-hal yang kecil. Dan masalah hidup bersahabat dengan bumi ini tidak melulu hanya seputar penghematan air, kertas, listrik, dan masalah seputar sampah. Tapi lebih ke masalah 'filosofi' bagaimana menyadari masalah ini adalah kebutuhan mendasar, bukan kewajiban. Kita yang perlu untuk menjadi sahabat bumi. Bukan bumi yang harus menjadi sahabat kita dengan mengikuti bagaimana perkembangan jaman dan teknologi.

Ketika kesadaran bahwa menjadi sahabat bumi ini adalah sebuah kebutuhan, bukan sesuatu yang terpaksa dilakukan, maka tidaklah sulit untuk menerapkan hidup hijau. Kalau kata orang tempat tinggal adalah cermin bagaimana orang yang tinggal di dalamnya, berarti bagaimana kita menghargai bumi itu sama dengan bagaimana kita menghargai kita sendiri :)

1.03.2010

kantong kresek.

Bukan shopping shopping ala tante tante yang nyari diskonan gitu, tapi blanja kebutuhan sehari-hari di rumah. Blanja di supermarket ato blanja di pasar, ada satu masalah yang sama, KANTONG KRESEK!!! hm...kenapa ya, penggunaan kantong kresek ini ngga bisa mulai dikurangi.

Pertama di supermarket. Ok, memang beberapa item harus dipisah. Masa' makanan disatuin sama detergen, ngga mungkin lah. Tapi kalo makanan yang terbungkus rapi, kaya biskuit dan teman-temannya itu disatuin sama sampo, sabun, kayanya masi ngga papa deh. Royal amat si ngasih plastik. Bukan masalah karena ngga usah bayar plastik, tapi betapa gampangnya kita menggunakan plastik kresek itu untuk sesuatu yang ngga penting-penting amat. 

Next, di pasar. tiap kita pindah dari satu tukang ke tukang yang lain, nambah satu kresek. Yah, kalo di pasar, banyak hal yang lebih bisa dimaafkan lah. Mungkin yaa... misalnya gini, Beli ayam, ngga mungkin kan kalo ngga diplastikin?!?!

Ada alasan-alasan yang ngga bisa kita hindari sehingga kita tetap pakai kantong plastik. Hal ini juga yang membuat aku sebenernya kurang sepakat dengan yang namanya kampanye ANTI PLASTIC BAG. Sori, kampanye yang terlalu utopis menurut aku tidak bekerja pada masyarakat kita. Menurutku lo ya.. Ngga perlu lah, sampe anti, toh aku rasa kita juga ngga mungkin idup tanpa bantuan si kantong kresek itu. Cuma mungkin penggunaan yang dikurangi dan lebih bijak. That's the point!!!! Cobalah, mulai dari hal-hal kecil, kebiasaan-kebiasaan yang terlihat sepele. Berapa banyak orang yang masih menyimpan kantong kresek yang masih bisa dipake, untuk dipake lagi? Berapa banyak orang yang akan menolak kasir kalo dirasa penggunaan kantong kresek itu ngga penting? Mudah-mudahan masih banyak ya..

Sayangnya, sistem persampahan di Indonesia tidak belum terintegrasi. Belum ada sistem pemilahan dan standar bagaimana masyarakat harus membuang sampah. Jadi jumlah timbulannya masih banyak, belum bisa tereduksi secara optimal. Jadi ya mau ngga mau kita 'terpaksa' menggunakan kantong kresek itu untuk membuang sampah harian. Kalau mau membantu mereduksi timbulan sampah (yang juga mengurangi kantong kresek untuk membuang sampah), kita bisa mengubur sampah dapur (sampah organik) di halaman seperti yang dilakukan orang-orang jaman dulu, atau bisa dengan metoda takakura. -Untuk yang terakhir nanti dibahas terpisah ya.. :)-  

Ada satu solusi. Bawa tas belanjaan sendiri!!! Heehehhehe... Tapi, ya itu.. Pertama, kadang-kadang belanjanya mendadak, dan kebetulan tasnya lupa dibawa. Ya mo gimana lagi? Kedua, tasnya yang ngga mengakomodasi dengan baik kebutuhan kita. Seperti misalnya, bahannya yang cepet rusak, jaitannya yang ngga bener, kemasannya yang ngga 'handy' alias ngabisin tempat kalo dimasukin ke tas kita. Yah, gimana orang-orang mo pake tas 'ramah lingkungan' ini kalo banyak masalahnya?

Solusi lain? Bikin rajutan dari 'benang' kantong kresek. Hm.. aku udah pernah nyobain sih, tapi agak repot juga sih bikinnya. Perlu hakpen yang besar dan tenaga yang buanyak untuk bikin satu tas dari kresek ini. Lumayan pegel tangannya soalnya benang kresek ini ngga selentur benang biasa. Padahal kalau jadi kerajinan lumayan juga loh, karena satu tas bisa menggunakan sekitar 30-50 kantong kresek. Cuma ya harus telaten banget bikinnya. Padahal kalau dikembangkan, selain bisa mereduksi sampah kresek, bisa juga jadi lapangan pekerjaan untuk ibu-ibu 'pengangguran' hehehe..

Untungnya sekarang udah mulai banyak tas belanja lucu-lucu yang ngga nyusahin untuk dibawa ke mana-mana. Tinggal dilipet sampe kecil, dikancing, dan ada gantungannya. Jadi bisa sekalian jadi gantungan kunci :p Yang masih aku pengen, tas-tas belanja dengan bahan seperti yang banyak dipake di Jepang atau Korea. Bukan karena produk import jadi keren. Tapi karena bahannya bagus, lebih kuat, dengan motif yang lucu-lucu, desain tasnya juga keren. Jadi ngga cuma bisa dipake belanja aja, tapi bisa jadi tote bag gaya.

Saat ini hanya kurang dari 1% kantong plastik yang mampu didaur ulang dengan biaya yang sangat mahal. Daur ulang satu ton kantong plastik menghabiskan biaya sekitar 40 juta rupiah, sementara produksi satu ton plastik hanya menghabiskan  sekitar 350 ribu rupiah.

Kalau kita bisa menghemat satu kantong plastik saja setiap hari, berarti kita menghemat 365 kantong plastik setahun. Kalau kita menggunakan kantong plastik selama 50 tahun, berarti kita menghemat sekitar 20.000 kantong plastik. Kalau 200 juta penduduk di Indonesia bisa melakukan penghematan ini, berarti kita bisa menghemat 4 trilyun kantung plastik :) 

So, be wise with plastic bags  :)

*repost dan diedit ulang dari blog multiply jadulku, 26 Maret 2008