Ketika hujan turun tidak seperti tetesan-tetesan menyejukkan, tapi seperti jutaan gayung yang tak pernah berhenti mengguyur. Kemudian mereka bersatu menghanyutkan siapa saja yang ditemui.
Kenapa manusia memaki?
Ketika matahari bersinar dengan terang, seperti jutaan lampu sorot yang siap memanggang. Kemudian mereka menjadikan tanah ini gersang.
Kenapa manusia memaki?
Bagaimana ketika langit memaki kita yang menutup pori bumi dan tidak pernah peduli karena tanah berteriak kehabisan nafas, sehingga air-air itu hanya sepintas lalu lewat tanpa bisa meresap?
Bagaimana ketika langit mengadu karena perlahan-lahan terkikis, menjadi lubang-lubang yang mempersilakan sinar matahari berhamburan masuk?
Apakah kita mendengarnya?
Hentikan dulu makianmu,
sebelum kamu bisa mendengar apa yang dikatakan alam,
dan cukup mengerti apa yang telah kita perbuat.
2.24.2010
2.08.2010
kurangi.
Hidup hijau pada dasarnya bukan mendaur ulang kembali barang-barang yang telah kita pergunakan. Ada yang lebih penting dan lebih mendasar dari daur ulang, yaitu mereduksi atau mengurangi. Mengurangi barang yang kita beli, mengurangi barang yang kita gunakan, dan pastinya juga harus mengurangi keinginan kita untuk memiliki barang. Sebisa mungkin kita tidak membeli atau menggunakan barang kalo ngga penting-penting amat. Waduh, kadang susah juga ya, apalagi kalo udah ada diskon, semua pasti pengen dibeli. Mumpung murah.. :p
Memiliki dan menyimpan hanya barang-barang kebutuhan dasar untuk jaman sekarang tentu berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau dulu hidup sederhana terbatas hanya dengan sandang pangan papan, sekarang tentunya sudah bertambah. Daftar kebutuhan primer semakin panjang. Barang-barang yang ada sekarang bukan hasil dari pemikiran 'perlu untuk diciptakan' lagi, tetapi 'diciptakan untuk dibutuhkan'. Diciptakan dulu, nanti ada bagian yang akan memikirkan bagaimana caranya supaya orang merasa membutuhkan.
Kemajuan teknologi yang katanya katanya membuat hidup lebih gampang, toh ternyata tidak juga. Jaman menuntut kita memiliki barang lebih banyak. Jaman juga membuat orang tidak mudah puas. Wah, ternyata hidup lebih mudah itu kompensasinya hidup lebih kompleks ya?
"Sudah hidup sederhanakah saya?"
Kalau mau mengurangi penggunaan barang, tentunya ada yang harus disederhanakan terlebih dahulu, hidup kita. Menyederhanakan keinginan kita. Tapi, hidup sederhana saat ini ternyata bukan hal yang sederhana. Lagipula, sederhana itu kan relatif. Tidak ada ukuran yang pasti. Sederhana untuk saya belum tentu sederhana juga untuk orang lain. Barang yang menurut saya tidak penting dimiliki, belum tentu juga tidak penting dimiliki orang lain.
Sederhana atau tidak hidup kita, hanya kita yang tahu karena yang tahu betul apa keperluan dasar kita adalah diri kita sendiri. Bisa ngga ya kita mengurangi keperluan sehari-hari? Pada dasarnya, semua manusia bisa hidup sederhana. Tetapi sekitar kita yang membuat kita merasa harus hidup 'tidak sederhana'.
Tampaknya saat belanja kita perlu mempertanyakan kembali daftar yang kita bawa. 'Betul ngga sih saya benar-benar perlu barang ini?' 'Bisa ngga ya saya hidup tanpa barang ini?' Terkadang pertanyaan itu manjur juga. Barang yang sudah saya pegang dan hampir masuk ke keranjang belanja, bisa kembali masuk ke raknya.
Sekali, dua kali, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Usaha kita untuk hidup sederhana dan mengurangi ketergantungan kita atas benda pastinya akan membuat sampah yang kita hasilkan nantinya berkurang juga, ;p
Yuk, kurangi..
Memiliki dan menyimpan hanya barang-barang kebutuhan dasar untuk jaman sekarang tentu berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau dulu hidup sederhana terbatas hanya dengan sandang pangan papan, sekarang tentunya sudah bertambah. Daftar kebutuhan primer semakin panjang. Barang-barang yang ada sekarang bukan hasil dari pemikiran 'perlu untuk diciptakan' lagi, tetapi 'diciptakan untuk dibutuhkan'. Diciptakan dulu, nanti ada bagian yang akan memikirkan bagaimana caranya supaya orang merasa membutuhkan.
Kemajuan teknologi yang katanya katanya membuat hidup lebih gampang, toh ternyata tidak juga. Jaman menuntut kita memiliki barang lebih banyak. Jaman juga membuat orang tidak mudah puas. Wah, ternyata hidup lebih mudah itu kompensasinya hidup lebih kompleks ya?
"Sudah hidup sederhanakah saya?"
Kalau mau mengurangi penggunaan barang, tentunya ada yang harus disederhanakan terlebih dahulu, hidup kita. Menyederhanakan keinginan kita. Tapi, hidup sederhana saat ini ternyata bukan hal yang sederhana. Lagipula, sederhana itu kan relatif. Tidak ada ukuran yang pasti. Sederhana untuk saya belum tentu sederhana juga untuk orang lain. Barang yang menurut saya tidak penting dimiliki, belum tentu juga tidak penting dimiliki orang lain.
Sederhana atau tidak hidup kita, hanya kita yang tahu karena yang tahu betul apa keperluan dasar kita adalah diri kita sendiri. Bisa ngga ya kita mengurangi keperluan sehari-hari? Pada dasarnya, semua manusia bisa hidup sederhana. Tetapi sekitar kita yang membuat kita merasa harus hidup 'tidak sederhana'.
Tampaknya saat belanja kita perlu mempertanyakan kembali daftar yang kita bawa. 'Betul ngga sih saya benar-benar perlu barang ini?' 'Bisa ngga ya saya hidup tanpa barang ini?' Terkadang pertanyaan itu manjur juga. Barang yang sudah saya pegang dan hampir masuk ke keranjang belanja, bisa kembali masuk ke raknya.
Sekali, dua kali, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Usaha kita untuk hidup sederhana dan mengurangi ketergantungan kita atas benda pastinya akan membuat sampah yang kita hasilkan nantinya berkurang juga, ;p
Yuk, kurangi..
2.04.2010
popok dan kesehatan
[catatan Mbak Dan] Masih membahas mengenai penggunaan popok bayi, kali ini sahabat bumi Rika Winurdiastri dari rumah popok.com akan berbagi tentang penggunaan popok dan kaitannya dengan kesehatan. Semoga bermanfaat! :)
...
Yang menjadi pertimbangan utama bagi orangtua adalah menjaga agar kulit bayi tetap kering, sehat, bebas ruam popok. Banyak hal menjadi sebab ruam popok, misalnya basah yang terlalu lama, kurangnya sirkulasi udara, sabun, zat kimia, alergi zat warna, ammonia yang terbentuk karena interaksi bakteri pada pup bayi dengan urin.
Yang menjadi perhatian kesehatan terkait pospak (popok sekali pakai, red.) adalah pewarna sodium polyacrylate (gel penyerap), dan dioksin, yang merupakan produk sampingan kertas (tisu) yang diputihkan. Pada masa lalu, Sodium polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock, reaksi alergi, dan juga berbahaya karena ternyata bersifat letal terhadap binatang. Beberapa jenis pewarna dan dioksin menurut EPA (Environmental Protection Agency) diketahui dapat merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. (FDA) Food & Drug Administration menerima laporan bahwa aroma pada pospak dapat menyebabkan sakit kepala dan ruam. Ada beberapa laporan konsumen (di Amerika) yang terkait pospak, misalnya bau insektisida, bayi yang merobek robek pospaknya dan memasukkan potongan plastic ke dalam mulut dan hidung, tersedak karena perekat dan pelapis. Perekat plastik juga dapat melukai kulit jika salah pakai.
Menurut Journal of Pediatrics, 54 % bayi berumur 1 tahun yang menggunakan pospak mengalami ruam, 16% mengalami ruam parah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah produsen pospak (nama tidak disebutkan, yang pasti salah satu produsen terbesar), menunjukkan bahwa insidensi ruam popok meningkat dari 7.1% menjadi 61% seiring dengan peningkatan penggunaan pospak.
Namun bagaimanapun juga, harap diingat bahwa setiap bayi berbeda. Bisa jadi ada orang tua yang menemukan bahwa tidak ada masalah dengan bayinya yang menggunakan pospak. Pengguna popok kain juga tidak semerta merta menjadi selamat. Popok kain bisa juga menyebabkan ruam apabila tidak sering diganti dan tidak dibersihkan/dicuci dengan baik setelah terkena fese.
Semuanya tergantung dari pilihan pribadi, reaksi bayi terhadap jenis pospak merek tertentu, dan bagaimana intuisi kita saat memilih popok kain atau pospak. Cara terbaik untuk mencegah ruam popok adalah mengganti popok, kain maupun pospak, secara rutin. Walaupun pospak mampu menahan urin dalam jumlah banyak, tetap saja kulit akan basah walaupun sedikit, yang dapat menyebabkan ruam. Adapun popok kain seharusnya diganti segera setelah popok basah, dan popok harus dibersihkan secara tuntas agar bakteri di popok mati.
...
Yang menjadi pertimbangan utama bagi orangtua adalah menjaga agar kulit bayi tetap kering, sehat, bebas ruam popok. Banyak hal menjadi sebab ruam popok, misalnya basah yang terlalu lama, kurangnya sirkulasi udara, sabun, zat kimia, alergi zat warna, ammonia yang terbentuk karena interaksi bakteri pada pup bayi dengan urin.
Yang menjadi perhatian kesehatan terkait pospak (popok sekali pakai, red.) adalah pewarna sodium polyacrylate (gel penyerap), dan dioksin, yang merupakan produk sampingan kertas (tisu) yang diputihkan. Pada masa lalu, Sodium polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock, reaksi alergi, dan juga berbahaya karena ternyata bersifat letal terhadap binatang. Beberapa jenis pewarna dan dioksin menurut EPA (Environmental Protection Agency) diketahui dapat merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. (FDA) Food & Drug Administration menerima laporan bahwa aroma pada pospak dapat menyebabkan sakit kepala dan ruam. Ada beberapa laporan konsumen (di Amerika) yang terkait pospak, misalnya bau insektisida, bayi yang merobek robek pospaknya dan memasukkan potongan plastic ke dalam mulut dan hidung, tersedak karena perekat dan pelapis. Perekat plastik juga dapat melukai kulit jika salah pakai.
Menurut Journal of Pediatrics, 54 % bayi berumur 1 tahun yang menggunakan pospak mengalami ruam, 16% mengalami ruam parah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah produsen pospak (nama tidak disebutkan, yang pasti salah satu produsen terbesar), menunjukkan bahwa insidensi ruam popok meningkat dari 7.1% menjadi 61% seiring dengan peningkatan penggunaan pospak.
Namun bagaimanapun juga, harap diingat bahwa setiap bayi berbeda. Bisa jadi ada orang tua yang menemukan bahwa tidak ada masalah dengan bayinya yang menggunakan pospak. Pengguna popok kain juga tidak semerta merta menjadi selamat. Popok kain bisa juga menyebabkan ruam apabila tidak sering diganti dan tidak dibersihkan/dicuci dengan baik setelah terkena fese.
Semuanya tergantung dari pilihan pribadi, reaksi bayi terhadap jenis pospak merek tertentu, dan bagaimana intuisi kita saat memilih popok kain atau pospak. Cara terbaik untuk mencegah ruam popok adalah mengganti popok, kain maupun pospak, secara rutin. Walaupun pospak mampu menahan urin dalam jumlah banyak, tetap saja kulit akan basah walaupun sedikit, yang dapat menyebabkan ruam. Adapun popok kain seharusnya diganti segera setelah popok basah, dan popok harus dibersihkan secara tuntas agar bakteri di popok mati.
popok dan lingkungan
[catatan Mbak Dan] Ketergantungan popok sekali pakai (disposable) semakin tinggi. Banyak alasannya, mulai dari alasan praktis hingga malas mencuci. Tapi tahukah bahwa popok sekali pakai ini ternyata meninggalkan jejak buruk pada lingkungan kita? Berhubung belum punya bayi dan punya teman baik yang senang berbagi mengenai penggunaan popok sekali pakai, dan nanti akan berbagi juga tentang detergen ramah lingkungan, saya bawa Rika Winurdiastri ke 'rumah sahabat bumi' untuk berbagi. Terima kasih banyak Rika.
...
Perdebatan tentang kontribusi lingkungan dari popok kain dan pospak memang ada. Kalangan pro pospak mengatakan bahwa menggunakan popok kain memiliki konsekuensi penggunaan air yang ekstra, penggunaan deterjen yang mencemari air tanah, dsb. Kalangan pro popok kain mengatakan penggunaan pospak berarti menambah limbah padat yang cukup signifikan terhadap TPA, dan kandungan tinja berbahaya apabila masuk ke dalam air tanah.
Menurut pendapat saya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan deterjen dan air untuk mencuci popok kain, karena tanpa popok kain pun, kita sudah menggunakan air. Anggap saja popok itu adalah pakaian dalam bayi (karena toh bayi hanya menggunakan popok kan? Tidak pakai ‘pakaian dalam’), sama dengan orang dewasa yang sehari hari menggunakan pakaian dalam. Penggunaan air ekstra adalah konsekuensi alami dari manusia ‘ekstra’ yang datang ke bumi.
Tanpa kelahiran bayi pun, kita bisa jadi memang sudah menggunakan deterjen tidak ramah lingkungan. Jadi jika ada pencemaran deterjen di badan air dan air tanah, itu adalah kesalahan orang dewasa yang tidak mau mempertimbangkan deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu, walaupun air semakin menipis, air adalah tetap sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Lagipula mari kita pikir, apakah volume air untuk mencuci popok sebegitu signifikan-nya? Adapun pospak? Tetap saja butuh waktu 500 tahun untuk menguraikannya.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pup bayi (feses manusia), itu seharusnya masuk ke saluran khusus yang dibawa dari WC ke instalasi pengolah air buangan, tidak boleh masuk ke TPA. Apabila kita cermati kemasan pospak, maka di dalamnya ada instruksi untuk membuang pup bayi terlebih dahulu ke WC, sebelum membuang popok tersebut. Apakah para orangtua melakukannya? Saya tidak mau berprasangka buruk, tapi sejujurnya, saya tidak yakin, karena saya sendiripun cenderung malas repot apabila mengenakan bayi saya pospak. Dengan popok kain, mau tidak mau, kita harus membuang pup terlebih dahulu ke WC, sehingga kecenderungan untuk terjadi pencemaran tinja justru lebih dapat dikurangi.
Harap diingat bahwa setiap kegiatan manusia pasti menimbulkan dampak lingkungan. Apalagi selama kita menggunakan energi (listrik, bensin, dll), maka mau tidak mau kita berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Jejak ‘dosa’ kita terhadap alam ini yang disebut jejak ekologis. Selama ‘kerusakan’ yang kita buat masih dapat diimbangi dengan kemampuan alami lingkungan untuk memulihkan diri, maka itu masih wajar wajar saja. Mengenai kontribusi kerusakan lingkungan popok kain dan pospak, ada baiknya kita melihat dari sisi: mana yang lebih banyak jejak ekologisnya? Dan menurut beberapa sumber (sebagai contoh dari http://www.dummies.com/how-to/content/diapers-cloth-versus-disposable.seriesId-92323.htm l#glossary-carbon_footprint;_ecological_footprint), jejak ekologis pospak adalah 2 kali lipat dibanding popok kain.
Ok, mari kita mencari sebuah sumber yang lebih netral. Dari sumber http://www.thedailygreen.com, Dr. Alan Greene (chief medical officer of A.D.A.M., chair of The Organic Center, a member of the advisory board of Healthy Child Healthy World and clinical professor of pediatrics at Stanford University’s Packard Children’s Hospital) mengamati sebuah studi dilakukan oleh Badan Lingkungan di England dan Wales. Kelompok peneliti membandingkan pospak, popok kain yang dicuci di rumah, dan popok kain yang dicuci di tempat mencuci komersial dalam hal kontribusi terhadap pemanasan global, penipisan ozon, pembentukan SMOG, dan penipisan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbarui, pencemaran air, asidifikasi, toksisitas, dan polusi tanah.
Studi ini tidak merekomendasikan pilihan apapun karena menurut para peneliti ini, semua menimbulkan dampak lingkungan. Walaupun menurut Dr. Alan Greene, seorang dokter anak, studi ini kurang lengkap karena di dalamnya. Mengapa? Studi tersebut tidak memperhatikan proses sangat awal dari produksinya, misalnya darimana asal pelapis plastik pospak, penebangan pohon, hingga penanaman kapas. Akan ada perbedaan yang besar antara kapas yang tumbuh dengan kontribusi zat kimia toksik dan kapas organik, antara hutan yang berkelanjutan dengan hutan yang asal dibabat.
Oke, kita anggap saja hasil penelitian badan lingkungan di Inggris akurat. Menurut badan lingkungan ini, yang penting adalah tindakan selanjutnya yang dapat mengurangi dampak popok. Misalnya bagi pemakai popok kain, mereka harus melakukan efisiensi energi dan hemat air (mudah bukan?). Jika memilih pospak, maka pilihlah produk dari produsen yang peduli lingkungan (green manufacture), yang biodegradable dan yang biasanya juga tidak mengandung klorin (lihat pembahasan mengenai popok dan kesehatan yang nanti akan saya posting, red). The big question is… apakah pospak yang umum dijual di Indonesia itu bebas klorin dan biodegradable (dapat terurai)?
Memang rasanya kurang adil jika mengeneralisir. Namun saya pernah melihat pospak impor dan mengklaim produknya ramah lingkungan, harganya.. hmmm.. kruk kruk kruk…[Rika Winurdiastri]
*dari rumahpopok.com
...
Perdebatan tentang kontribusi lingkungan dari popok kain dan pospak memang ada. Kalangan pro pospak mengatakan bahwa menggunakan popok kain memiliki konsekuensi penggunaan air yang ekstra, penggunaan deterjen yang mencemari air tanah, dsb. Kalangan pro popok kain mengatakan penggunaan pospak berarti menambah limbah padat yang cukup signifikan terhadap TPA, dan kandungan tinja berbahaya apabila masuk ke dalam air tanah.
Menurut pendapat saya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan deterjen dan air untuk mencuci popok kain, karena tanpa popok kain pun, kita sudah menggunakan air. Anggap saja popok itu adalah pakaian dalam bayi (karena toh bayi hanya menggunakan popok kan? Tidak pakai ‘pakaian dalam’), sama dengan orang dewasa yang sehari hari menggunakan pakaian dalam. Penggunaan air ekstra adalah konsekuensi alami dari manusia ‘ekstra’ yang datang ke bumi.
Tanpa kelahiran bayi pun, kita bisa jadi memang sudah menggunakan deterjen tidak ramah lingkungan. Jadi jika ada pencemaran deterjen di badan air dan air tanah, itu adalah kesalahan orang dewasa yang tidak mau mempertimbangkan deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu, walaupun air semakin menipis, air adalah tetap sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Lagipula mari kita pikir, apakah volume air untuk mencuci popok sebegitu signifikan-nya? Adapun pospak? Tetap saja butuh waktu 500 tahun untuk menguraikannya.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pup bayi (feses manusia), itu seharusnya masuk ke saluran khusus yang dibawa dari WC ke instalasi pengolah air buangan, tidak boleh masuk ke TPA. Apabila kita cermati kemasan pospak, maka di dalamnya ada instruksi untuk membuang pup bayi terlebih dahulu ke WC, sebelum membuang popok tersebut. Apakah para orangtua melakukannya? Saya tidak mau berprasangka buruk, tapi sejujurnya, saya tidak yakin, karena saya sendiripun cenderung malas repot apabila mengenakan bayi saya pospak. Dengan popok kain, mau tidak mau, kita harus membuang pup terlebih dahulu ke WC, sehingga kecenderungan untuk terjadi pencemaran tinja justru lebih dapat dikurangi.
Harap diingat bahwa setiap kegiatan manusia pasti menimbulkan dampak lingkungan. Apalagi selama kita menggunakan energi (listrik, bensin, dll), maka mau tidak mau kita berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Jejak ‘dosa’ kita terhadap alam ini yang disebut jejak ekologis. Selama ‘kerusakan’ yang kita buat masih dapat diimbangi dengan kemampuan alami lingkungan untuk memulihkan diri, maka itu masih wajar wajar saja. Mengenai kontribusi kerusakan lingkungan popok kain dan pospak, ada baiknya kita melihat dari sisi: mana yang lebih banyak jejak ekologisnya? Dan menurut beberapa sumber (sebagai contoh dari http://www.dummies.com/how-to/content/diapers-cloth-versus-disposable.seriesId-92323.htm l#glossary-carbon_footprint;_ecological_footprint), jejak ekologis pospak adalah 2 kali lipat dibanding popok kain.
Ok, mari kita mencari sebuah sumber yang lebih netral. Dari sumber http://www.thedailygreen.com, Dr. Alan Greene (chief medical officer of A.D.A.M., chair of The Organic Center, a member of the advisory board of Healthy Child Healthy World and clinical professor of pediatrics at Stanford University’s Packard Children’s Hospital) mengamati sebuah studi dilakukan oleh Badan Lingkungan di England dan Wales. Kelompok peneliti membandingkan pospak, popok kain yang dicuci di rumah, dan popok kain yang dicuci di tempat mencuci komersial dalam hal kontribusi terhadap pemanasan global, penipisan ozon, pembentukan SMOG, dan penipisan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbarui, pencemaran air, asidifikasi, toksisitas, dan polusi tanah.
Studi ini tidak merekomendasikan pilihan apapun karena menurut para peneliti ini, semua menimbulkan dampak lingkungan. Walaupun menurut Dr. Alan Greene, seorang dokter anak, studi ini kurang lengkap karena di dalamnya. Mengapa? Studi tersebut tidak memperhatikan proses sangat awal dari produksinya, misalnya darimana asal pelapis plastik pospak, penebangan pohon, hingga penanaman kapas. Akan ada perbedaan yang besar antara kapas yang tumbuh dengan kontribusi zat kimia toksik dan kapas organik, antara hutan yang berkelanjutan dengan hutan yang asal dibabat.
Oke, kita anggap saja hasil penelitian badan lingkungan di Inggris akurat. Menurut badan lingkungan ini, yang penting adalah tindakan selanjutnya yang dapat mengurangi dampak popok. Misalnya bagi pemakai popok kain, mereka harus melakukan efisiensi energi dan hemat air (mudah bukan?). Jika memilih pospak, maka pilihlah produk dari produsen yang peduli lingkungan (green manufacture), yang biodegradable dan yang biasanya juga tidak mengandung klorin (lihat pembahasan mengenai popok dan kesehatan yang nanti akan saya posting, red). The big question is… apakah pospak yang umum dijual di Indonesia itu bebas klorin dan biodegradable (dapat terurai)?
Memang rasanya kurang adil jika mengeneralisir. Namun saya pernah melihat pospak impor dan mengklaim produknya ramah lingkungan, harganya.. hmmm.. kruk kruk kruk…[Rika Winurdiastri]
*dari rumahpopok.com
1.31.2010
...
persiapan mall baru yang akan naik singgasana
akal sehat penguasa yang ikut terkeruk tanah
kemudian entah hilang kemana
1.21.2010
kolesterol.
Siapa bilang kalau muda boleh bersenang-senang dengan makanan hingga lupa diri?
"Mumpung masih muda," Begitu katanya.
Kolesterol, yang banyak diidap orang lanjut usia, sekarang udah mulai mengincar anak muda. Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) meriset tentang hal ini. 3.125 remaja ikut andil dalam penelitian ini di tahun 2006, dan hasilnya? Satu dari lima remaja di Amerika memiliki kadar kolesterol di atas standar.
"Ah, tenang aja.. aku ngga gendut kok."
Hoo.. ternyata, 14 persen remaja yang kadar kolesterolnya di atas standar itu, punya tubuh dengan berat normal. Dan sepertiga remaja di Amerika berpotensi mengalami penyakit jantung dini karena kolesterol.
Selain penyakit jantung, kolesterol ini juga bisa menimbulkan penyakit liver yang kini berada di puncak daftar penyebab kematian orang dewasa di AS. Jadi, berhati-hatilah dengan pola makan.
Jangan tunda lagi karena hidup sehat dari sekarang sama dengan investasi sehat di lanjut usia ;)
"Mumpung masih muda," Begitu katanya.
Kolesterol, yang banyak diidap orang lanjut usia, sekarang udah mulai mengincar anak muda. Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) meriset tentang hal ini. 3.125 remaja ikut andil dalam penelitian ini di tahun 2006, dan hasilnya? Satu dari lima remaja di Amerika memiliki kadar kolesterol di atas standar.
"Ah, tenang aja.. aku ngga gendut kok."
Hoo.. ternyata, 14 persen remaja yang kadar kolesterolnya di atas standar itu, punya tubuh dengan berat normal. Dan sepertiga remaja di Amerika berpotensi mengalami penyakit jantung dini karena kolesterol.
Selain penyakit jantung, kolesterol ini juga bisa menimbulkan penyakit liver yang kini berada di puncak daftar penyebab kematian orang dewasa di AS. Jadi, berhati-hatilah dengan pola makan.
Jangan tunda lagi karena hidup sehat dari sekarang sama dengan investasi sehat di lanjut usia ;)
1.20.2010
percuma?
"Kok sepertinya percuma aja ya kalau kita memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah sendiri, ujung-ujungnya disatuin lagi sama tukang sampah."
"Percumakah?"
Sering banget aku mendengar 'keluhan' seperti tadi. Banyak diantara kita yang sebenernya udah pengen 'berbuat' untuk memisahkan sampah, antara sampah organik dan anorganik. Tapi setelah niat itu bulat, eh, kepentok lagi masalah yang klasik. Sistem tidak mendukung, dengan kata lain pihak yang berwenang mengurus sampah tidak memisahkan mereka. Kalaupun ada beberapa pemukiman yang Tempat Pembuatan Sampahnya (TPS) dipisah, berapa persen jumlahnya. Pemerintah belum bisa diandalkan untuk mengurus sistem yang berkelanjutan, bla bla bla..
Berhenti mengeluh kepada pemerintah yang mengurus sistem.
Mari kita inisiasi dari yang terkecil, yang bisa kita lakukan tanpa bergantung pada orang lain. Untuk urusan sampah ini, banyak sekali yang bisa kita lakukan tanpa menunggu orang lain bertindak.
Sampah organik.
Sampah ini tampaknya ada sejak adanya peradaban. Semua orang perlu makan, dan tidak semua yang bisa dimakan akan habis. Makan daun, tangkai jadi sampah. Makan buah, kulit dan biji jadi sampah. Hal yang paling gampang kita lakukan adalah, mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan.
Sulitkah? Sepertinya tidak, tapi masih banyak orang yang tidak menghabiskan makanannya dan menolerir banyak sekali alasan untuk tidak menghabiskan makanan. Jadi solusinya, kurangilah alasan untuk tidak menghabiskan makanan, dan carilah solusinya.
Yang sering aku lihat adalah masalah porsi makanan. Misalnya, kalau tahu makannya dikit, ambil secukupnya. Kalau makan di restoran, minta nasinya setengah porsi, atau minta piring kosong untuk menaruh nasi yang tidak termakan. Tentunya dipisahinnya sebelum makan, jangan udah selesai makan baru dipisah. Yang penting masih layak untuk dimakan orang lain. Terus bilang sama mas-mas atau mbak-mbak yang melayani bahwa nasi itu masih layak untuk dimakan. Seenggaknya kalau ada peraturan restoran itu tidak bisa diberikan oleh tamu lain, masih bisa dimakan oleh pekerjanya.
Oke.. Resolusi tahun ini bertambah.
Mengambil makanan secukupnya? Cek!
Menghabiskan makanan? Cek!
Yang berikutnya, sampah organik dikompos. Ingat apa yang dilakukan orang-orang dulu terhadap sampah organik? Mereka menyisakan sedikit lahannya di halaman, dikeruk supaya bisa menjadi tempat sampah. Sampah organik dimasukkan ke sana hingga penuh, nanti ditutup dengan tanah dari lahan di sebelahnya yang menjadi calon 'tempat sampah' baru.
Ngga punya lahan untuk dikeruk dan dijadikan tempat sampah? Pakailah keranjang takakura! Cerita lengkapnya udah pernah aku tulis di sini. Cara ini sangat mengurangi timbulan sampah yang keluar dari rumah kita, sistem terkecil yang masih bisa kita kontrol.
Kurangi timbulan sampah organik di rumah? Cek!
Sampah anorganik.
Untuk sampah-sampah yang masih bisa dipakai lagi, semua dipisahin dari awal. Minimal kemasan dari plastik dan kaca. Kalau ada tempat khusus di dekat tempat sampah untuk menaruh barang-barang tersebut, dari awal botol-botol tersebut 'bersih' dari sampah. Nanti sampah botol itu bisa kita letakkan di luar, pemulung juga tidak perlu mengacak-acak tempat sampah kita.
Untuk sampah yang tidak aman seperti plastik dan styrofoam, hindari sebisa mungkin. Minuman botol, mie instan dalam styrofoam. Yang paling gampang ya membiasakan diri untuk bawa bekal minum dari rumah. Jadi di jalan kita tidak 'terpaksa' beli minuman kemasan. Untuk makanan, sama dengan minum. Bawa bekal dari rumah. Apalagi bekal dari rumah itu lebih sehat dan terjamin kualitas makanannya. Kalo repot? Ngga usah bawa makanannya, bawa tempatnya aja. Biar ngga susah jangan lupa simpen piring atau tempat bekal di kantor, jadi kalau mau beli makanan ngga perlu pake kemasan.
Mengurangi sampah kertas dan plastik pembungkus. Cek!
Untuk hal yang sederhana ini, kadang kita bertemu dengan sifat manusia yang ngga pernah puas, dan ngga mau repot. "Mau makan aja repot, mau minum aja susah." Memang sederhana, tapi terkadang tidak mudah.
Kalau pengen sesuatu yang instan untuk membuat bumi ini lebih baik, ngga beres-beres karena kebanyakan mikir ini itu :p Betul ngga? Mengubah mind set itu tidak bisa cepat, perlu diingatkan berulang-ulang sampai kesadaran itu nempel permanen di otak. Biar ngga keburu pusing duluan, kita niatkan 'yang penting sampah dikurangi' dulu. Kalau kebiasaan ini sudah 'nempel', nanti dengan sendirinya akan menjadi sebuah pola pikir yang baru.
Kebiasaan-kebiasaan di atas mungkin hanya sedikit sekali dari banyak kebiasaan yang bisa kita lakukan untuk bersahabat dengan bumi. Tapi bayangkan kalau kebiasaan tersebut dilakukan masal berjuta-juta orang. Jadi biar kebiasaan ini jadi kebiasaan banyak orang, mari kita saling mengingatkan :p
"Percumakah?"
Sering banget aku mendengar 'keluhan' seperti tadi. Banyak diantara kita yang sebenernya udah pengen 'berbuat' untuk memisahkan sampah, antara sampah organik dan anorganik. Tapi setelah niat itu bulat, eh, kepentok lagi masalah yang klasik. Sistem tidak mendukung, dengan kata lain pihak yang berwenang mengurus sampah tidak memisahkan mereka. Kalaupun ada beberapa pemukiman yang Tempat Pembuatan Sampahnya (TPS) dipisah, berapa persen jumlahnya. Pemerintah belum bisa diandalkan untuk mengurus sistem yang berkelanjutan, bla bla bla..
Berhenti mengeluh kepada pemerintah yang mengurus sistem.
Mari kita inisiasi dari yang terkecil, yang bisa kita lakukan tanpa bergantung pada orang lain. Untuk urusan sampah ini, banyak sekali yang bisa kita lakukan tanpa menunggu orang lain bertindak.
Sampah organik.
Sampah ini tampaknya ada sejak adanya peradaban. Semua orang perlu makan, dan tidak semua yang bisa dimakan akan habis. Makan daun, tangkai jadi sampah. Makan buah, kulit dan biji jadi sampah. Hal yang paling gampang kita lakukan adalah, mengurangi sampah dengan menghabiskan makanan.
Sulitkah? Sepertinya tidak, tapi masih banyak orang yang tidak menghabiskan makanannya dan menolerir banyak sekali alasan untuk tidak menghabiskan makanan. Jadi solusinya, kurangilah alasan untuk tidak menghabiskan makanan, dan carilah solusinya.
Yang sering aku lihat adalah masalah porsi makanan. Misalnya, kalau tahu makannya dikit, ambil secukupnya. Kalau makan di restoran, minta nasinya setengah porsi, atau minta piring kosong untuk menaruh nasi yang tidak termakan. Tentunya dipisahinnya sebelum makan, jangan udah selesai makan baru dipisah. Yang penting masih layak untuk dimakan orang lain. Terus bilang sama mas-mas atau mbak-mbak yang melayani bahwa nasi itu masih layak untuk dimakan. Seenggaknya kalau ada peraturan restoran itu tidak bisa diberikan oleh tamu lain, masih bisa dimakan oleh pekerjanya.
Oke.. Resolusi tahun ini bertambah.
Mengambil makanan secukupnya? Cek!
Menghabiskan makanan? Cek!
Yang berikutnya, sampah organik dikompos. Ingat apa yang dilakukan orang-orang dulu terhadap sampah organik? Mereka menyisakan sedikit lahannya di halaman, dikeruk supaya bisa menjadi tempat sampah. Sampah organik dimasukkan ke sana hingga penuh, nanti ditutup dengan tanah dari lahan di sebelahnya yang menjadi calon 'tempat sampah' baru.
Ngga punya lahan untuk dikeruk dan dijadikan tempat sampah? Pakailah keranjang takakura! Cerita lengkapnya udah pernah aku tulis di sini. Cara ini sangat mengurangi timbulan sampah yang keluar dari rumah kita, sistem terkecil yang masih bisa kita kontrol.
Kurangi timbulan sampah organik di rumah? Cek!
Sampah anorganik.
Untuk sampah-sampah yang masih bisa dipakai lagi, semua dipisahin dari awal. Minimal kemasan dari plastik dan kaca. Kalau ada tempat khusus di dekat tempat sampah untuk menaruh barang-barang tersebut, dari awal botol-botol tersebut 'bersih' dari sampah. Nanti sampah botol itu bisa kita letakkan di luar, pemulung juga tidak perlu mengacak-acak tempat sampah kita.
Untuk sampah yang tidak aman seperti plastik dan styrofoam, hindari sebisa mungkin. Minuman botol, mie instan dalam styrofoam. Yang paling gampang ya membiasakan diri untuk bawa bekal minum dari rumah. Jadi di jalan kita tidak 'terpaksa' beli minuman kemasan. Untuk makanan, sama dengan minum. Bawa bekal dari rumah. Apalagi bekal dari rumah itu lebih sehat dan terjamin kualitas makanannya. Kalo repot? Ngga usah bawa makanannya, bawa tempatnya aja. Biar ngga susah jangan lupa simpen piring atau tempat bekal di kantor, jadi kalau mau beli makanan ngga perlu pake kemasan.
Mengurangi sampah kertas dan plastik pembungkus. Cek!
Untuk hal yang sederhana ini, kadang kita bertemu dengan sifat manusia yang ngga pernah puas, dan ngga mau repot. "Mau makan aja repot, mau minum aja susah." Memang sederhana, tapi terkadang tidak mudah.
Kalau pengen sesuatu yang instan untuk membuat bumi ini lebih baik, ngga beres-beres karena kebanyakan mikir ini itu :p Betul ngga? Mengubah mind set itu tidak bisa cepat, perlu diingatkan berulang-ulang sampai kesadaran itu nempel permanen di otak. Biar ngga keburu pusing duluan, kita niatkan 'yang penting sampah dikurangi' dulu. Kalau kebiasaan ini sudah 'nempel', nanti dengan sendirinya akan menjadi sebuah pola pikir yang baru.
Kebiasaan-kebiasaan di atas mungkin hanya sedikit sekali dari banyak kebiasaan yang bisa kita lakukan untuk bersahabat dengan bumi. Tapi bayangkan kalau kebiasaan tersebut dilakukan masal berjuta-juta orang. Jadi biar kebiasaan ini jadi kebiasaan banyak orang, mari kita saling mengingatkan :p
1.13.2010
boraks.
[catatan Mbak Dan] Ini adalah abstraksi Tugas Akhir mbak dan, siapa tahu bermanfaat. Ternyata boraks tidak hanya berada dalam bakso saja, seperti yang kita ketahui selama ini, tapi juga berada pada makanan lain. Mudah-mudahan tulisan seperti ini bisa meningkatkan kesadaran atas apa yang kita konsumsi, dan membuat kita lebih waspada terhadap jajanan-jajanan yang ada di sekitar kita. Aku percaya, kesadaran dan kewaspadaan konsumen bisa meningkatkan kesadaran para produsen makanan untuk berhati-hati menggunakan bahan tambahan makanan dan memberikan yang terbaik untuk para konsumennya.
* * *
Boraks adalah senyawa kimia yang mempunyai sifat dapat mengembangkan, memberi efek kenyal, serta membunuh mikroba. Boraks sering digunakan oleh produsen untuk dijadikan zat tambahan makanan (ZTM) pada bakso, tahu, mie, bihun, kerupuk, maupun lontong.
Keberadaan boraks pada makanan tidak ditoleransi (tidak boleh ada dalam kadar berapapun, red.) karena sangat berbahaya bagi kesehatan, oleh sebab itu penggunaan boraks dilarang (tidak ada standar kadar boraks dalam makanan) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pada penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif kolometri kadar senyawa boron pada mie basah dan baso dilihat dari pembentukan kompleks boron-kurkumin berupa senyawa kompleks resosianin bewarna merah (Curcurmin Method) dan dilihat penurunan kadar boron pada makanan setelah diolah sampai makanan tersebut siap saji (direbus).
Hasil menunjukkan bahwa senyawa boron sebagai ZTM masih digunakan, dan ditemukan boron pada sampel mie sebesar 0,052 - 0,367 mg B/g berat kering dan pada baso sebesar 0,0075 – 0,139 mg B/g berat, kering. Penurunan kadar setelah direbus sekitar 18 - 20% (larut dalam air perebus).
Selain itu dilakukan juga perhitungan asupan (intake) boron yang mungkin didapat oleh konsumen yang berasal dari mie baso dengan responden mahasiswa sebesar 0,047 mg B/kg-hari.
* * *
Boraks bisa terkandung dalam mie lebih banyak dari bakso karena selain mengenyalkan, boraks ini menjadi bahan pengawet. Dan mie basah cenderung lebih cepat membusuk dari pada bakso.
Sebagai info, senyawa yang mengandung boron adalah zat yang digunakan pada tetes mata, salah satu bahan pembuat gelas dan keramik, juga banyak digunakan di industri sebagai bahan semikonduktor.
1.10.2010
taman rumah.
Pagi ini ada yang dateng, namanya Pur. Dia yang biasa bantu kita membereskan tanaman dan halaman di depan rumah. Hihi, udah lama banget ngga dipangkas udah kaya utan :p Hm..mumpung ada yang ngerjain, taman depan diapain ya?
"Nur, ada ide ngga taman diapain?" Hmm.. jeda sejenak, Nur menggeleng.
"Mit, ada ide ngga diapain?"
"Hmm.. gimana kalo taman depan kita semen aja. Biar ngga usah susah susah ngurus taman, nambah-nambahin banjir?" Dengan sedikit senyum 'sinis-nakal'. Ya ya.. tak mungkin lah kita menyemen tuh taman.
"Ho..biar hijau, gimana kalo kita tanem pohon mangga aja persis depan garasi?"
"Tanggung mbak, beringin aja sekalian. Biar ada yang jaga mobil supaya ngga dicuri orang."
Haha.. "Bisa juga tuh ditanem beringin. Tapi jangan depan garasi aku. Di depan garasimu aja gimana?"
Hmm, berapa banyak ya rumah yang masih mempertahankan 'lahan hijau'nya untuk jalan air menjadi air tanah? Tidak mengorbankan lahan hijau dengan dalih perlu garasi, perlu tempat usaha, perlu mengeraskan halaman, dan keperluan lainnya yang tampaknya lebih penting dibandingkan mempertahankan lahan hijaunya?
"Ah, air masih banyak.. Kalau pun susah air, paling bukan generasi kita.." Kalau yang ini nadanya beneran sinis :p
Kata siapa krisis air masih lama? Bukan tidak mungkin krisis air terjadi dalam 5 tahun ke depan dengan keadaan seperti ini. Apalagi ditambah dengan tidak menghemat air. Lengkaplah 'mantra-mantra' pemanggil krisis air.
Sekarang, hujan kecil aja, kiri kanan jalan udah banjir. Dan tampaknya banjir ini tidak hanya di sekitar rumah, tapi mulai meluas. Gimana nih Pak Walikota? Rumah bapak belum pernah kebanjiran ya?
*Semoga masih banyak orang yang sadar untuk mempertahankan lahan hijaunya. Selamat bekerja Pur. Terima kasih udah bantu mengurus 'lahan hijau' di rumah :p
"Nur, ada ide ngga taman diapain?" Hmm.. jeda sejenak, Nur menggeleng.
"Mit, ada ide ngga diapain?"
"Hmm.. gimana kalo taman depan kita semen aja. Biar ngga usah susah susah ngurus taman, nambah-nambahin banjir?" Dengan sedikit senyum 'sinis-nakal'. Ya ya.. tak mungkin lah kita menyemen tuh taman.
"Ho..biar hijau, gimana kalo kita tanem pohon mangga aja persis depan garasi?"
"Tanggung mbak, beringin aja sekalian. Biar ada yang jaga mobil supaya ngga dicuri orang."
Haha.. "Bisa juga tuh ditanem beringin. Tapi jangan depan garasi aku. Di depan garasimu aja gimana?"
Hmm, berapa banyak ya rumah yang masih mempertahankan 'lahan hijau'nya untuk jalan air menjadi air tanah? Tidak mengorbankan lahan hijau dengan dalih perlu garasi, perlu tempat usaha, perlu mengeraskan halaman, dan keperluan lainnya yang tampaknya lebih penting dibandingkan mempertahankan lahan hijaunya?
"Ah, air masih banyak.. Kalau pun susah air, paling bukan generasi kita.." Kalau yang ini nadanya beneran sinis :p
Kata siapa krisis air masih lama? Bukan tidak mungkin krisis air terjadi dalam 5 tahun ke depan dengan keadaan seperti ini. Apalagi ditambah dengan tidak menghemat air. Lengkaplah 'mantra-mantra' pemanggil krisis air.
Sekarang, hujan kecil aja, kiri kanan jalan udah banjir. Dan tampaknya banjir ini tidak hanya di sekitar rumah, tapi mulai meluas. Gimana nih Pak Walikota? Rumah bapak belum pernah kebanjiran ya?
*Semoga masih banyak orang yang sadar untuk mempertahankan lahan hijaunya. Selamat bekerja Pur. Terima kasih udah bantu mengurus 'lahan hijau' di rumah :p
Greenie, si keranjang takakura.
Setelah menulis penghematan yang bisa dilakukan di dapur dengan mencuci piring, pertanyaan berikutnya adalah ke manakah sebaiknya sampah-sampah organik sisa makanan dan memasak itu pergi? Untuk mengurangi timbulan sampah yang sampai ke pembuangan akhir di rumah, sebetulnya kita masih bisa memanfaatkan sampah organik ini. Dari sini kita bisa dapet kompos untuk tanaman-tanaman kita.
Keranjang Takakura (namanya dari bapak yang menciptakan keranjang ini, Koji Takakura) di rumah, yang biasa dipanggil 'Greenie' oleh Mita, penghuni gelap rumah terbaru. Greenie ini berupa tempat cucian baju yang didalamnya dilapisi kardus, dan berisi tanah. Sebelum ditutup dengan penutup plastiknya, ada penutup tambahan bantal sekam.
Greenie ini sudah ada di dapur sejak 1,5 tahun yang lalu. Praktis, karena memang dirancang untuk mengolah sampah rumah tangga. Bau ngga? Hoho, jangan takut, ngga akan bau, tidak akan mengeluarkan 'air sampah'.
Kalau kita beli keranjang Takakura, kita akan mendapatkan bakteri yang fungsinya menjadi starter. Bakteri-bakteri ini yang akan menjadi teman kita, dengan mengurai sampah jadi kompos. Bakteri ini ngga akan keliatan kok, jadi bentuknya tidak mengerikan sama sekali :) Simpan keranjang di dekat bak cuci biar gampang. Sebaiknya keranjang ini tidak kena sinar matahari langsung.
Pemakaian keranjang Takakura ini sama sekali ngga susah. Paling mengeluarkan sedikit energi lebih karena kita harus 'mencincang' sampah organik dimasukkan ke dalam keranjang. Kenapa harus dipotong kecil-kecil dulu? Supaya bakterinya bisa mengurai sampah lebih cepat. Setelah itu, sampah organik ini dimasukkan ke keranjang Takakura dan diaduk-aduk dengan campuran kompos (tanah dan starter) sampai rata. Tutup dengan sekam supaya tidak bau dan suhunya terjaga.
Mau tahu bakteri itu sudah makan sampah kita atau belum? Letakkan tangan ke dekat keranjang. Kalau terasa hangat, berarti bakteri-bakteri itu sudah mulai bekerja. Untuk mendapatkan kompos, 2/3 bagian kompos yang telah jadi bisa kita ambil. Sisanya, bisa digunakan lagi sebagai starter. Nah, sampah berkurang, pupuk bisa dimanfaatkan untuk tanaman-tanaman kita. Asik kan?
Nah, kalau mau membuat keranjang takakura sendiri, ada blognya ternyata. Klik di sini ya. Atau bisa juga kontak ke Kang Afif 022.9283.0310.
Keranjang Takakura (namanya dari bapak yang menciptakan keranjang ini, Koji Takakura) di rumah, yang biasa dipanggil 'Greenie' oleh Mita, penghuni gelap rumah terbaru. Greenie ini berupa tempat cucian baju yang didalamnya dilapisi kardus, dan berisi tanah. Sebelum ditutup dengan penutup plastiknya, ada penutup tambahan bantal sekam.
Greenie ini sudah ada di dapur sejak 1,5 tahun yang lalu. Praktis, karena memang dirancang untuk mengolah sampah rumah tangga. Bau ngga? Hoho, jangan takut, ngga akan bau, tidak akan mengeluarkan 'air sampah'.
Kalau kita beli keranjang Takakura, kita akan mendapatkan bakteri yang fungsinya menjadi starter. Bakteri-bakteri ini yang akan menjadi teman kita, dengan mengurai sampah jadi kompos. Bakteri ini ngga akan keliatan kok, jadi bentuknya tidak mengerikan sama sekali :) Simpan keranjang di dekat bak cuci biar gampang. Sebaiknya keranjang ini tidak kena sinar matahari langsung.
Pemakaian keranjang Takakura ini sama sekali ngga susah. Paling mengeluarkan sedikit energi lebih karena kita harus 'mencincang' sampah organik dimasukkan ke dalam keranjang. Kenapa harus dipotong kecil-kecil dulu? Supaya bakterinya bisa mengurai sampah lebih cepat. Setelah itu, sampah organik ini dimasukkan ke keranjang Takakura dan diaduk-aduk dengan campuran kompos (tanah dan starter) sampai rata. Tutup dengan sekam supaya tidak bau dan suhunya terjaga.
Mau tahu bakteri itu sudah makan sampah kita atau belum? Letakkan tangan ke dekat keranjang. Kalau terasa hangat, berarti bakteri-bakteri itu sudah mulai bekerja. Untuk mendapatkan kompos, 2/3 bagian kompos yang telah jadi bisa kita ambil. Sisanya, bisa digunakan lagi sebagai starter. Nah, sampah berkurang, pupuk bisa dimanfaatkan untuk tanaman-tanaman kita. Asik kan?
Nah, kalau mau membuat keranjang takakura sendiri, ada blognya ternyata. Klik di sini ya. Atau bisa juga kontak ke Kang Afif 022.9283.0310.
Subscribe to:
Posts (Atom)


