Showing posts with label supermarket. Show all posts
Showing posts with label supermarket. Show all posts

1.05.2010

Ayo jadi konsumen cerdas!

Setelah tulisan tentang baca dulu label makanan, sekarang saatnya kita menjadi konsumen cerdas, dalam hal ini bahasannya adalah makanan! Menjadi konsumen cerdas berarti bisa kritis terhadap apa yang dibeli. Sadar betul apa yang dibeli beserta dampak atau konsekuensinya. Membaca label adalah langkah awal menjadi konsumen cerdas karena dengan begitu kita sedikit banyak tahu kondisi makanan yang kita beli.

Apa saja sih yang harus diperhatikan pada label makanan? 

Informasi gizi (nutrition facts). 
Di situ tercantum berapa jumlah penyajian dalam kemasan, termasuk takaran penyajian. Ini sering kali kita abaikan, apalagi untuk cemilan. Misalnya, satu kantung kacang yang tertera 2,5 penyajian, kita habiskan sendiri. Otomatis semua angka-angka yang tertera dalam informasi gizi harus anda kalikan 2,5.

Cek lagi jumlah kalori, baik kalori total maupun per sajian. Yang tidak kalah penting adalah jumlah kalori dari lemak. Jumlah kalori dibawah 100 per sajian tergolong rendah, 100-200 sedang, diatas 200 termasuk tinggi. Ini berlaku untuk cemilan ya, bukan makanan berat. Standar kalori yang dibutuhkan per orang setiap harinya rata-rata 2000. Jadi tinggal atur-atur sendiri berapa banyak cemilan yang masih 'wajar' dimakan. 

Komposisi bahan (ingredients). 
Semua bahan-bahan yang terkandung di dalam makanan seharusnya dicantumkan di sini. Tapi kalau anda jeli, terkadang produsen makanan tidak mencantumkan semua. Bisa karena itu dianggap 'rahasia perusahaan' supaya resepnya ngga bocor, atau bahan tersebut termasuk bahan yang seharusnya tidak digunakan. Biasanya yang dicantumkan di awal informasi adalah bahan yang paling banyak digunakan, seperti tepung, gula, mentega, atau telur misalnya.

Setelah itu biasanya dicantumkan pula zat-zat tambahan makanan lainnya. Nah, ini yang juga tidak boleh dilewati. Penguat rasa seperti MSG, pengawet, pewarna, baik kimiawi maupun natural biasanya dicantumkan di sini. Tapi yang menjadi masalah berikutnya, kita tidak selalu tahu, bahan itu berbahaya atau tidak. Kita ngga selalu tahu seberapa banyak zat tersebut bisa kita konsumsi. Biasanya untuk bahan-bahan tambahan seperti itu ada penjelasan seberapa banyak bisa kita konsumsi per kilogram berat badan. Jadi anak-anak dan dewasa tentunya punya kadar toleransi yang berbeda.

Biasanya pada label dicantumkan pula kandungan lemak, karbohidrat, protein dan vitamin yang terkandung atau ditambahkan. Untuk informasi lemak, ada beberapa kategori yang harus diperhatikan. Ada makanan yang mencantumkan "bebas lemak". Berarti makanan tersebut mengandung maksimal 0,5 gram lemak per takaran.  "Rendah lemak"  kurang lebih 3 gram. Pehatikan pula berapa jumlah lemak jenuh/ tak jenuhnya. Sebisa mungkin makanan tersebut tidak mengandung lemak jenuh.

Sering kali angka yang tercantum di label makanan menggunakan persen, yang merupakan nilai harian. Kembali lagi, ini mengacu pada jumlah kalori rata-rata orang dewasa, 2000 kalori. Jadi untuk yang diet rendah kalori, misalnya 1500 kalori, ya harus dihitung ulang. Hitung kasar aja lah, ngga perlu sampe detil. Pusing nanti tiap makan :p Misalnya, kandungan lemak total pada sebuah produk adalah 5% persen, berarti jumlah lemak total tersebut 5% dari 2.000 yaitu 100 kalori lemak.

Ada beberapa informasi lainnya yang harus diperhatikan, terutama untuk orang-orang yang punya kondisi kesehatan tertentu. Kalau punya bawaan sakit jantung atau obesitas, kita harus sangat berhati-hati dengan informasi lemak ini. Sementara untuk yang punya penyakit darah tinggi, karena harus menghindari garam, perhatikan kadar sodiumnya. Hati-hati pula dengan bawaan alergi seperti misalnya alergi kacang atau protein susu (laktosa). Ada beberapa orang yang sangat sensitif dengan kacang. Biasanya hampir setiap produk luar mencantumkan tulisan "May contain traces of nut". Artinya walaupun sangat kecil jumlahnya, masih ada kandungan kacang dalam produk tersebut.  

Jadi, jangan lupa cek label setiap beli makanan, dan jadilah konsumen yang cerdas!! :)

1.04.2010

baca dulu labelnya..

Apa yang kita lakukan ketika berbelanja makanan? Ada yang langsung memasukkan begitu saja makanan yang kita inginkan atau butuhkan ke keranjang makanan. Ada yang memilih-milih dulu jenisnya, seperti kalau kita ingin kripik kentang, kita berpikir dulu, kali ini yang dibeli rasa apa ya? Dan akhirnya keranjang belanja kita penuh dengan makanan. Atau kita keluar toko hanya dengan apa yang kita butuhkan.

Terlepas dari makanan yang dibelanjakan itu hanya kebutuhan sehari-hari atau belanja cemilan dan makanan yang terkadang tidak kita perlukan, ada satu hal yang sering terlewati. Membaca label makanan. Sudahkan mengecek label itu menjadi bagian dari kebiasaan saat belanja? Kebanyakan orang mengecek tanggal kadaluarsa makanan. Tapi lebih jauh lagi mengecek label yang ada di pinggir kemasan, mengerti isi informasi yang ada, dan akhirnya makanan tersebut masuk ke dalam pilihan menandakan kita tahu 'konsekuensi' dari apa yang dimakan.

Paranoid?

Kebiasaanku mengecek label makanan beberapa kali dibilang ‘paranoid’ oleh beberapa teman. Apakah kebiasaan itu dianggap berlebihan? Padahal, membaca label makanan bisa menjadi pintu suatu lorong hak konsumen. Lorong awal di mana kita tahu apa yang kita makan. Kertas kecil berisi info yang membuat kita tahu, berbahaya atau tidak makanan yang kita konsumsi. Informasi yang membuat kita bisa melihat, bagaimana dampak makanan itu terhadap tubuh kita, dengan segala yang tertera.

Tentunya sebagai orang yang hobinya makan, kadang-kadang label dilihat untuk  tahu apa isi dari makanan yang dibeli. Siapa tahu , dengan informasi bahannya itu, aku ngga perlu membeli makanan itu karena bisa membuatnya sendiri di rumah. Walaupun kasus ini jarang juga sih, karena ujung-ujungnya malas ‘repot’ memasak, hemat waktu dan energi, hehe..




Ahli pangan?

Kadang-kadang gara-gara suka membaca label makanan, aku ditanya beberapa temen tentang isi label itu. Wah, aku bukan ahli pangan yang ngerti segala info dalam daftar bahan-bahan suatu makanan. Apalagi kalau yang tertera kode-kode makanan seperti untuk pewarna dan bahan-bahan makanan. Ada beberapa hal yang mungkin aku tahu karena pernah ikut kuliah 'Sanitasi Makanan dan Minuman'. Tapi kalau ngga tahu, bisa nyari kan di internet? Tinggal tanya paman Google nan baik hati dan tahu segala itu, keluarlah sederet penjelasan.

Untuk jangka panjang, mungkin kita jadi banyak belajar tentang apa yang kita makan, seperti apa itu lemak trans, pewarna makanan mana yang aman dan lain sebagainya. Tapi untuk langkah awal, membaca label makanan ini merupakan salah satu kesadaran kita terhadap apa yang kita makan.

Tentang mata kuliah sanitasi yang aku ikuti dulu, setiap keluar kelas, jadi mikir 'Kalau hampir semua makanan di dunia ini ada dampak negatifnya, kita makan apa dong?' Kita hidup di jaman yang serba maju, dan ada yang harus kita bayar untuk kemajuan jaman itu. Polusi yang akhirnya bersarang di tanaman yang akan kita makan, residu bahan kimia pertanian, bakteri dan virus yang semakin lama semakin ganas karena mereka pun perlu bertahan hidup. Wah, kalau kita nyari makanan yang seratus persen aman, bisa-bisa kita puasa seumur hidup, dong.

Memilih resiko.

Milih apa yang kita makan sama saja dengan memilih resiko. Tapi setidaknya ya itu tadi, kita tahu dan sadar betul apa yang kita makan, dan resiko apa yang kita dapatkan. Kalau udah punya kesadaran itu, tanpa sadar kita bisa memilih apa yang terbaik, atau apa yang dibutuhkan saat ini. Kalaupun makanannya enak tapi ngga baik, bisa tetep dimakan sih, tapi secukupnya saja. Jangan banyak-banyak, jangan sering-sering. Atau kalau tahu dampak negatif dari mengkonsumsi sesuatu, kita kan bisa cari tahu antisipasi apa yang perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif.

Ada juga pertanyaan yang dilontarkan "Mau makan aja kok repot?". Atau mungkin ada juga yang bilang "Ntar aja deh, milih-milih makanannya kalau udah tua." Hm..kenyamanan kita di usia lanjut nanti harus diinvestasi dari sekarang. Jadi kalau mau lebih enak-enak pas tua nanti, ayo kita mulai dari sekarang. Setelah tahu dan sadar betul apa yang kita makan, pilihan tetap ada di kita kan? Ngga ada yang memaksa anda untuk makan atau tidak makan sesuatu kan? Kecuali anda pola makan anda di bawah pengawasan dokter mungkin :)

Oh, btw, yang pertama kalau aku liat label makanannya adalah jumlah kalori total per serving dan kalori dari lemak. Kalori dari lemak ngga boleh lebih dari 25-30% dari jumlah kalori total, dan sebisa mungkin ngga ada saturated fat alias lemak jenuhnya. Setelah itu baru aku cek yang lain ;)

1.03.2010

kantong kresek.

Bukan shopping shopping ala tante tante yang nyari diskonan gitu, tapi blanja kebutuhan sehari-hari di rumah. Blanja di supermarket ato blanja di pasar, ada satu masalah yang sama, KANTONG KRESEK!!! hm...kenapa ya, penggunaan kantong kresek ini ngga bisa mulai dikurangi.

Pertama di supermarket. Ok, memang beberapa item harus dipisah. Masa' makanan disatuin sama detergen, ngga mungkin lah. Tapi kalo makanan yang terbungkus rapi, kaya biskuit dan teman-temannya itu disatuin sama sampo, sabun, kayanya masi ngga papa deh. Royal amat si ngasih plastik. Bukan masalah karena ngga usah bayar plastik, tapi betapa gampangnya kita menggunakan plastik kresek itu untuk sesuatu yang ngga penting-penting amat. 

Next, di pasar. tiap kita pindah dari satu tukang ke tukang yang lain, nambah satu kresek. Yah, kalo di pasar, banyak hal yang lebih bisa dimaafkan lah. Mungkin yaa... misalnya gini, Beli ayam, ngga mungkin kan kalo ngga diplastikin?!?!

Ada alasan-alasan yang ngga bisa kita hindari sehingga kita tetap pakai kantong plastik. Hal ini juga yang membuat aku sebenernya kurang sepakat dengan yang namanya kampanye ANTI PLASTIC BAG. Sori, kampanye yang terlalu utopis menurut aku tidak bekerja pada masyarakat kita. Menurutku lo ya.. Ngga perlu lah, sampe anti, toh aku rasa kita juga ngga mungkin idup tanpa bantuan si kantong kresek itu. Cuma mungkin penggunaan yang dikurangi dan lebih bijak. That's the point!!!! Cobalah, mulai dari hal-hal kecil, kebiasaan-kebiasaan yang terlihat sepele. Berapa banyak orang yang masih menyimpan kantong kresek yang masih bisa dipake, untuk dipake lagi? Berapa banyak orang yang akan menolak kasir kalo dirasa penggunaan kantong kresek itu ngga penting? Mudah-mudahan masih banyak ya..

Sayangnya, sistem persampahan di Indonesia tidak belum terintegrasi. Belum ada sistem pemilahan dan standar bagaimana masyarakat harus membuang sampah. Jadi jumlah timbulannya masih banyak, belum bisa tereduksi secara optimal. Jadi ya mau ngga mau kita 'terpaksa' menggunakan kantong kresek itu untuk membuang sampah harian. Kalau mau membantu mereduksi timbulan sampah (yang juga mengurangi kantong kresek untuk membuang sampah), kita bisa mengubur sampah dapur (sampah organik) di halaman seperti yang dilakukan orang-orang jaman dulu, atau bisa dengan metoda takakura. -Untuk yang terakhir nanti dibahas terpisah ya.. :)-  

Ada satu solusi. Bawa tas belanjaan sendiri!!! Heehehhehe... Tapi, ya itu.. Pertama, kadang-kadang belanjanya mendadak, dan kebetulan tasnya lupa dibawa. Ya mo gimana lagi? Kedua, tasnya yang ngga mengakomodasi dengan baik kebutuhan kita. Seperti misalnya, bahannya yang cepet rusak, jaitannya yang ngga bener, kemasannya yang ngga 'handy' alias ngabisin tempat kalo dimasukin ke tas kita. Yah, gimana orang-orang mo pake tas 'ramah lingkungan' ini kalo banyak masalahnya?

Solusi lain? Bikin rajutan dari 'benang' kantong kresek. Hm.. aku udah pernah nyobain sih, tapi agak repot juga sih bikinnya. Perlu hakpen yang besar dan tenaga yang buanyak untuk bikin satu tas dari kresek ini. Lumayan pegel tangannya soalnya benang kresek ini ngga selentur benang biasa. Padahal kalau jadi kerajinan lumayan juga loh, karena satu tas bisa menggunakan sekitar 30-50 kantong kresek. Cuma ya harus telaten banget bikinnya. Padahal kalau dikembangkan, selain bisa mereduksi sampah kresek, bisa juga jadi lapangan pekerjaan untuk ibu-ibu 'pengangguran' hehehe..

Untungnya sekarang udah mulai banyak tas belanja lucu-lucu yang ngga nyusahin untuk dibawa ke mana-mana. Tinggal dilipet sampe kecil, dikancing, dan ada gantungannya. Jadi bisa sekalian jadi gantungan kunci :p Yang masih aku pengen, tas-tas belanja dengan bahan seperti yang banyak dipake di Jepang atau Korea. Bukan karena produk import jadi keren. Tapi karena bahannya bagus, lebih kuat, dengan motif yang lucu-lucu, desain tasnya juga keren. Jadi ngga cuma bisa dipake belanja aja, tapi bisa jadi tote bag gaya.

Saat ini hanya kurang dari 1% kantong plastik yang mampu didaur ulang dengan biaya yang sangat mahal. Daur ulang satu ton kantong plastik menghabiskan biaya sekitar 40 juta rupiah, sementara produksi satu ton plastik hanya menghabiskan  sekitar 350 ribu rupiah.

Kalau kita bisa menghemat satu kantong plastik saja setiap hari, berarti kita menghemat 365 kantong plastik setahun. Kalau kita menggunakan kantong plastik selama 50 tahun, berarti kita menghemat sekitar 20.000 kantong plastik. Kalau 200 juta penduduk di Indonesia bisa melakukan penghematan ini, berarti kita bisa menghemat 4 trilyun kantung plastik :) 

So, be wise with plastic bags  :)

*repost dan diedit ulang dari blog multiply jadulku, 26 Maret 2008