5.27.2010

terima kasih kumkum..

Wah..surprise surprise!!

Sepulang aku dari sekolah, ada sebuah paket yang terbungkus dari kertas koran ditujukan untukku. Wah, dari siapakah gerangan? Ternyata paket itu dari Kumkum!! Ini adalah paket hadiah untuk blog sahabat bumi yang berhasil menang di Kumkum Blog Competition beberapa waktu lalu.. Dan hadiahnya sungguh membuat aku senang!! :D


T-shirt Kumkum yang terbuat dari katun organik, produksi Firebolt Distro & Clothing. Tulisannya aku suka banget "Naik apa kamu hari ini?". Sesuai untuk aku yang suka banget naik angkot dan jalan kaki.. Bahan katun organiknya? Hmm.. enak banget.. adem.. Apalagi kemaren sempet pengen punya kaos lagi, tapi ngga pengen beli (baca : pengen kaos dari acara atau event tertentu) hihihi... :p

Tas kain unik pengganti kantong kresek dari BaGoes. Ya ya ya..orang-orang bilang.. 'kalo ini mah minta adek sendiri aja'. Tapi kan beda dong rasanya dapet dari Kumkum sama minta adek sendiri :p Asik..punya shopping bag lagi :D

Suvenir kampanye Earth Hour WWF-Indonesia. Wah, ini dia yang oke banget nget nget.. Another shopping bag bergambar panda legendarisnya WWF, lilin earth hour (ngakunya sih... 100% beeswax candle/made of natural product/non-toxic/non-polluting/non-allergenic/low carbon product), 2 pin WWF, dan kaos earth hour yang bahannya juga dari katun organik..

Oya, dua kaos itu berpotongan cewe. Syukurlah.. aku ngga suka T-shirt potongan cowo, hihihi :) Pas banget ukurannya!! :D

Terakhir... 1 roll biobag (@ isi 10 buah) yang terbuat dari campuran tepung singkong dari freetodecide.org.

Terima kasih Kumkum :)

4.23.2010

alhamdulillah..



"Nyuci Piring Yuuk" berhasil menjadi pemenang di Kumkum Blog Competition 2010 yang baru saja diadakan pada pertengahan April lalu.

Tulisan tersebut bersama dua tulisan lainnya : "Galong" dan "Greenie Si Keranjang Takakura", berhasil menjadi finalis tulisan favorit bersama 7 tulisan teman-teman pecinta bumi lainnya.

Terima kasih atas dukungan teman-teman 'sahabat bumi', yang sudah mau mampir membaca, yang ikut sumbang tulisan, dan teman-teman yang selalu mendukung aku untuk berbagi di blog ini. Semoga aku bisa tetap berkomitmen dan konsisten untuk menulis dan mengisi blog ini :)

Untuk yang mau meramaikan blog ini dengan membagi tulisannya, ditunggu di kayumanis37[at]gmail.com. 

Salam hijau!

Mbak Dan

4.22.2010

merayakan 'ulang tahun' bumi

..
Tuhan, semoga bumi ini tidak sakit lagi

Tuhan, semoga orang-orang di dunia bisa menghemat air

Tuhan, semoga orang-orang bisa sayang sama pohon dan ngga ditebangin lagi

Tuhan, semoga orang-orang tidak membuang sampah sembarangan lagi

Tuhan, semoga orang-orang tidak banyak pake plastik lagi

Amiin

Doa teman-teman kecilku di hari 'ulang tahun' bumi

..

Hari ini adalah Hari Bumi. Kata salah seorang teman kecilku, hari ini bumi berulang tahun, jadi harus dirayakan, sama seperti ketika orang-orang, teman-teman, dan sanak saudara merayakan ulang tahunnya.

Apakah semua orang yang mengenal bumi merayakannya?

Ya, semua orang di bumi merayakannya. Setiap hari malah. Mereka merayakannya dengan setiap hal yang dilakukannya. Hanya saja cara merayakannya atau menyampaikan kasih sayang mereka ke bumi berbeda..

Yang disayangkan, banyak sekali orang yang 'merayakan' bumi dengan menganggap mereka berkuasa atas bumi. Orang-orang ini yang merayakannya dengan membuang sampah sembarangan, membakar sampah termasuk sampah plastik yang berbahaya untuk dibakar, mengeraskan lahannya sehingga air hujan tidak bisa lagi menyelinap masuk menjadi air tanah. Mereka juga masih merayakannya dengan menggunakan plastik dan styrofoam, mereka menggunakan air dengan foya-foya.

Untungnya, masih ada orang-orang yang benar-benar merayakannya. Sedikitnya kalau tidak bisa merayakannya besar-besaran, mereka berusaha untuk merayakannya dengan kasih sayang dari hal-hal yang kecil. Salah satunya teman-teman kecilku di Rumah Belajar Semi Palar.

Hari ini adalah hari perayaan 'ulang tahun' bumi yang istimewa untukku. Aku merayakannya dengan teman-teman kecilku yang berusaha untuk mengurangi polusi sedikitnya pagi ini. Kita berjalan bersama dari tempat kumpul tidak jauh dari sekolah. Beberapa pergi ke sekolah dengan bersepeda bersama. Setelahnya kita berdoa sama-sama untuk bumi supaya segera sembuh dari 'sakit'

Tidak cukup dengan itu, kita jalan-jalan ke lingkungan sekitar sekolah sambil mungutin sampah. Wah, semangat sekali teman-teman mengerjakannya! :) Setelah selesai mungut sampah, kita bikin karya bersama!! Instalasi sampah plastik yang mengurung bumi kita. Teman-teman juga menuliskan doa-doa untuk bumi kita di tembok sekolah. Masih belum puas lagi kita merayakan ulang tahun ini, kita nonton "Earth" sama-sama. Saking asiknya merayakan pesta ulang tahun, sampai ngga sempet foto-foto untuk dipajang di sini. Hehe.. semoga perayaan tahun depan kita masih bersama ya.. Jadi aku bisa pasang foto-foto keren dan asik di sini.

Ternyata teman-temanku dari TK sampai SD kelas 4 ini memang peduli dengan lingkungan dan bumi kita.  Terima kasih teman-teman telah menemaniku merayakan 'Hari Bumi' kali ini. Semoga langkah-langkah 'kecil' yang teman-teman lakukan ini adalah sebuah benih yang akan berbunga dan tumbuh subur menyejukkan bumi ini. Semoga tetap terpupuk dan bisa menularkan kepedulian ini ke semua orang yaa...


Selamat Hari Bumi!!

4.18.2010

sumpit.


akhirnya...
kalo makan sushi
atau makanan bersumpit lainnya,
aku ngga pake sumpit yang dikasih
karena sekarang aku bawa sumpit sendiri..
jadi mengurangi sampah kayu
dari sumpit sekali pakai

so.. bring your own chopstick!!

4.09.2010

4.01.2010

perjalanan botol



sebisa mungkin kita kurangi konsumsi minumah kemasan botol :)
ngga sulit kan jadi sahabat bumi?

3.31.2010

Alam Itu Ibu, "Mother of Earth"

Senin, 8 Maret 2010 10:07 WIB |Jakarta (ANTARA News)

Alam adalah pengayom, tempat manusia dilindungi, seperti ibu menaungi anaknya. Tapi alam telah begitu terdegradasi karena manusia tak memperlakukannya sebagai ibu, dari siapa manusia belajar mencinta.
"Saya selalu mengatakan alam itu ibu," kata Jatna Supriatna.

Ketiadaan cinta membuat alam menimpakan bencana kepada manusia. Kata Jatna, "Karena kita tak bijak mengelola alam."

Jatna Supriatna adalah Perwakilan Conservation International Indonesia, pakar dan aktivis lingkungan yang kiprahnya mendapat tempat khusus dalam salah satu buku terlaris internasional "Hot, Flat, and Crowded" karangan kolumnis terkemuka New York Times, Thomas L. Friedman.

Akhir Februari lalu di kampus Universitas Indonesia, kepada Liberty Jemadu dari ANTARA News, doktor bioantropologi itu memaparkan bagaimana seharusnya manusia merayu alam untuk tak lagi menghukum manusia dengan bencana dahsyat.

Benarkah bencana itu karena ulah manusia, bukankah bencana-bencana seperti Longsor Ciwidey jelas-jelas karena alam?
Kita tak pernah bijak. Kerawanan longsor di Jawa itu sangat tinggi. Gunung Halimun (di Ciwidey) adalah gunung yang kelongsorannya sangat tinggi, tapi orang cenderung tinggal di tempat-tempat yang tingkat kelongsorannya sangat tinggi. Tapi, coba lihat orang (Kampung) Naga atau orang Baduy. Mereka lebih bijaksana, tak membuat rumah di tempat yang kemungkinan longsornya tinggi. Mereka tidak berlebihan.

Bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam?
Kita semua memerlukan alam. Udara, air, sandang pangan, papan, disediakan oleh alam, tidak dari yang lain. Kita harus bisa mengelola alam dengan baik. Oleh karena itu saya selalu mengatakan alam sebagai ibu, "The mother of earth." Ia pengayom, sama seperti kita memperlakukan seorang ibu. Tetapi kalau kita menjadi panglima untuk alam, maka akan berbeda.

Bedanya di mana?
Panglima itu mengatur, begini, begitu. Masalahnya bagaimana kalau mengaturnya salah? Lain dari itu, kita cenderung "pemerintah sentris", bahwa yang mengelola alam harus pemerintah, padahal kan tidak.

Bagaimana persisnya posisi pemerintah?
Kesalahan kerap berasal dari pembuat keputusan, karena ia sering reaktif dan kurang terencana. Di sisi lain, kita sering mengambil sesuatu dari alam secara berlebihan, serakah. Nah siapa yang bisa mengontrol keserakahan? Itulah fungsi government, mengotrol keserakahan.

Jika pemerintah tak boleh mengambil semua peran, pihak lain mana yang mesti terlibat?
Pemerintah adalah pembuat kebijakan, tapi jangan juga menjadi pelaksana. Tak semua kepemerintahan mesti diurusi pemerintah. Check and balance perlu. Siapa yang 'membalance? Di sinilah DPR berperan. Tapi kan kawasan konservasi itu luas sekali, mana mungkin cuma ditangani DPR? Untuk itu perlu ada civil society (masyarakat madani). Belanda misalnya, konservasi dikelola oleh publik karena terlalu berat. Di AS bahkan dibagi ke daerah. Kita belum, padahal publik harus segera dilibatkan.

Bukankah upaya seperti itu sulit, karena di zaman kini semuanya harus melewati DPR?
Yang namanya publik kan semua pihak. Ya parlemen, pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Mengapa konservasi di luar negeri bertambah, sementara di Indonesia tidak? Karena kita sering tidak konseptual. Misalnya tiba-tiba mencanangkan kebijakan aneh seperti 'doubling oil pump', menanam kelapa sawit di hutan yang masih bagus. Bagaimana ini? Itulah karena regulator dan implementer menjadi satu. Masyarakat cuma disuruh menonton.

Itukah yang membuat kita dituduh telah merusak hutan oleh negara-negara maju?
Begini, saya kasih analogi, semua obat berasal dari alam. Semua diproduksi alam, lalu diproduksi lagi secara massal oleh ilmuwan. Kini kita kehilangan, karena kita sering meremehkan unsur-unsur alam itu dengan berkata 'ah itu kan tidak ada gunanya' padahal kita nanti memerlukannya. Sikap inilah yang menguntungkan negara maju.

Maksudnya?
Mereka mendapatkan obat-obatan berharga jutaan dolar, sementara negara yang mempunyai biodiversity" (keanekaragaman hayati) untuk obat itu tak mendapat apa-apa. Di Madagaskar misalnya, ada satu jenis tumbuhan yang diambil oleh satu perusahaan AS dan dipasarkan menjadi jutaan dolar, sementara Madagaskar tidak dapat apa-apa. Mereka yang mempunyai teknologi diuntungkan, sementara yang memiliki "biodeversity" terus disalahkan. Saya katakan ini kepada Thomas, "It's not fair" (Itu tidak adil).


Jatna Supriatna mengalami pencerahan pada 1970an, bahwa konservasi itu mempunyai keinginan luhur, dan harus lebih didekati, lebih dari sekedar meneliti dan kampus. "Science' itu penting, tapi ia harus beradapatasi dengan lingkungan di mana dia berada." Thomas L. Friedman menuliskan kecerdikan Jatna Supriatna dalam mengawal Taman Nasional Batang Gadis di mana pemerintah pusat memberikan izin penambangan emas di kawasan konservasi yang membuat Jatna jatuh takut bahwa izin itu memicu terdegradasinya kualitas alam. Jatna tak mengambil jalan frontal melawan pemerintah atau menantang pengusah, tetapi dia juga tak "membakar" masyarakat. Sebaliknya, Jatna mendekati ketiganya sekaligus, dengan meyakinkan mereka bahwa tak ada yang diuntungkan dari alam yang terdegradasi. "Bahasa yang dipakai oleh masyarakat akan berbeda dengan bahasa yang dipakai pejabat dan juga berbeda dari bahasa yang dipakai LSM," katanya. "Yang satu jangka pendek, yang satunya lagi jangka panjang."

Misalnya, kita berada di daerah komunitas muslim pesantren, ya kita harus menyesuaikan dengan keperluan mereka, misal dalam soal wudhu. Mereka mempunyai 15 ribuan santri yang tiap hari bergantung kepada sungai. Kalau sungainya kotor karena terkena polusi tambang emas, bagaimana dengan santri-santri itu? Apakah mau menggali sumur? Santri itu maunya airnya mengalir, segar, dan dingin. Tetapi kalau airnya bau, bagaimana mereka bisa berwudhu? Dari situ, saya membangunkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya menurunnya kualitas alam.

Kita masih harus menghadapi pengusaha, bagaimana kita menarik mereka untuk terlibat dalam konservasi?
Mereka harus mempunyai kepedulian. Mereka mengekstrak dari alam, dan mereka harus mengembalikannya ke alam. Kalau semua mempunyai pemikiran seperti ini, maka alam tidak akan rusak seperti ini. (*)

pewawancara: liberty jemadu/ editor : jafar sidik
disadur dari http://www.antaranews.com/wawancara/1268017650/alam-itu-ibu-mother-of-earth

2.24.2010

berhenti memaki.

Ketika hujan turun tidak seperti tetesan-tetesan menyejukkan, tapi seperti jutaan gayung yang tak pernah berhenti mengguyur. Kemudian mereka bersatu menghanyutkan siapa saja yang ditemui.
Kenapa manusia memaki?

Ketika matahari bersinar dengan terang, seperti jutaan lampu sorot yang siap memanggang. Kemudian mereka menjadikan tanah ini gersang.
Kenapa manusia memaki?

Bagaimana ketika langit memaki kita yang  menutup pori bumi dan tidak pernah peduli karena tanah berteriak kehabisan nafas, sehingga air-air itu hanya sepintas lalu lewat tanpa bisa meresap?

Bagaimana ketika langit mengadu karena perlahan-lahan terkikis, menjadi lubang-lubang yang mempersilakan sinar matahari berhamburan masuk?

Apakah kita mendengarnya?

Hentikan dulu makianmu,
sebelum kamu bisa mendengar apa yang dikatakan alam,
dan cukup mengerti apa yang telah kita perbuat.

2.08.2010

kurangi.

Hidup hijau pada dasarnya bukan mendaur ulang kembali barang-barang yang telah kita pergunakan. Ada yang lebih penting dan lebih mendasar dari daur ulang, yaitu mereduksi atau mengurangi. Mengurangi barang yang kita beli, mengurangi barang yang kita gunakan, dan pastinya juga harus mengurangi keinginan kita untuk memiliki barang. Sebisa mungkin kita tidak membeli atau menggunakan barang kalo ngga penting-penting amat. Waduh, kadang susah juga ya, apalagi kalo udah ada diskon, semua pasti pengen dibeli. Mumpung murah.. :p

Memiliki dan menyimpan hanya barang-barang kebutuhan dasar untuk jaman sekarang tentu berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau dulu hidup sederhana terbatas hanya dengan sandang pangan papan, sekarang tentunya sudah bertambah. Daftar kebutuhan primer semakin panjang. Barang-barang yang ada sekarang bukan hasil dari pemikiran 'perlu untuk diciptakan' lagi, tetapi 'diciptakan untuk dibutuhkan'. Diciptakan dulu, nanti ada bagian yang akan memikirkan bagaimana caranya supaya orang merasa membutuhkan.

Kemajuan teknologi yang katanya katanya membuat hidup lebih gampang, toh ternyata tidak juga. Jaman menuntut kita memiliki barang lebih banyak. Jaman juga membuat orang tidak mudah puas. Wah, ternyata hidup lebih mudah itu kompensasinya hidup lebih kompleks ya?

"Sudah hidup sederhanakah saya?"

Kalau mau mengurangi penggunaan barang, tentunya ada yang harus disederhanakan terlebih dahulu, hidup kita. Menyederhanakan keinginan kita. Tapi, hidup sederhana saat ini ternyata bukan hal yang sederhana. Lagipula, sederhana itu kan relatif. Tidak ada ukuran yang pasti. Sederhana untuk saya belum tentu sederhana juga untuk orang lain. Barang yang menurut saya tidak penting dimiliki, belum tentu juga tidak penting dimiliki orang lain.

Sederhana atau tidak hidup kita, hanya kita yang tahu karena yang tahu betul apa keperluan dasar kita adalah diri kita sendiri. Bisa ngga ya kita mengurangi keperluan sehari-hari? Pada dasarnya, semua manusia bisa hidup sederhana. Tetapi sekitar kita yang membuat kita merasa harus hidup 'tidak sederhana'.

Tampaknya saat belanja kita perlu mempertanyakan kembali daftar yang kita bawa. 'Betul ngga sih saya benar-benar perlu barang ini?' 'Bisa ngga ya saya hidup tanpa barang ini?' Terkadang pertanyaan itu manjur juga. Barang yang sudah saya pegang dan hampir masuk ke keranjang belanja, bisa kembali masuk ke raknya.

Sekali, dua kali, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Usaha kita untuk hidup sederhana dan mengurangi ketergantungan kita atas benda pastinya akan membuat sampah yang kita hasilkan nantinya berkurang juga, ;p

Yuk, kurangi..